“Hindiana…. Mengapa engkau di sini?”
Pujangga ─ atau yang sekarang hanya bisa ia panggil Hindiana, tak menghiraukan ucapan pria putih jangkung yang sedang membawa sekumpulan tentara. Alih-alih meladeni pria itu, ia memilih untuk menoleh ke arah warga yang ketakutan. Hindiana tersenyum dengan senyuman hangat, sangat hangat, mengalahkan hangat mentari pagi yang Holanda hirup setiap ia menginjakkan kaki di tanah tercinta, bukan Netherlands, tetapi tanah tropis ini.
“Kalian segera pergi sekarang, tak usah takut. Aku yang akan mengurus semuanya dari sini, jangan lupa untuk menghantarkan orang-orang lain juga..” Suaranya bagai lantunan lagu, menghipnotis orang-orang yang mendengarnya. Membuat warga yang tersekap menenang, hanya dengan kata-katanya.
Lalu, senyuman Hindiana berubah seketika menjadi muka masam ketika warga yang ketakutan sudah pergi terbirit-birit, menarik apa yang berharga, membantu yang mereka kasihi. Saat keadaan menjadi lebih tenang dan keluarganya selamat, hanya menyisakan sekelompok pasukan dan satu pemimpin pasukan, pria yang kala itu menjanjikan ratusan kebahagiaan kepadanya. Holanda membuka mulut untuk yang kedua kalinya mencoba meraih tangan Hindiana, ia terus meraih walau putus asa telah menggerogoti nadinya, tetapi tangannya mulai detik ini akan selalu ditepis keras oleh Hindiana.
“Hindiana… Aku bisa jelaskan.”
“Menjelaskan apa? Menjelaskan kau sedang menindas keluargaku? Sudah cukup Holanda. Saya kemari untuk melihat anak-anakku dan kau disini… Melakukan hal kotor, mengotorkan kesucian tanah ini?”
Ia dipanggil dengan nama yang paling ia tak suka, tak suka terlalu merendah, kata benci mungkin lebih cocok menjelaskan perasaannya. Karena ketika nama itu keluar dari mulut sang terkasih, sesuatu yang buruk akan terjadi. “Hindiana aku mohon sebentar, dengarkanlah aku…”
Darah Hindiana seketika menaik, sudah di ujung pitam kemarahannya dan akan segera memuncak. Tatapan Hindiana memancarkan amarah, kebencian dan kekecewaan menjadi satu. “Kau bilang semua ini akan berakhir, kau bilang kami tidak akan lagi menderita! Kebohongan mana lagi yang akan kau jelaskan?”
“Sudah cukup sampai disini, kita sudahi semua yang terjalin.”
Hindiana pergi dengan acuh meninggalkan Holanda, tidak barang sedikit pun ia menoleh ke arahnya. Kepalan tangan Hindiana sangat erat oleh amarah, jika dilihat lebih teliti ada bekas merah di kedua telapak tangan Hindiana. Paras indah Hindiana menghilang dengan seiring ia pergi ke arah perkampungan, ke keluarganya yang sebenarnya.
Perasaan Hindiana sudah menjadi ampas, keluarganya diperlakukan semena-mena di hadapannya. Rasa cinta kepada pria asal Belanda itu masih berlenggu, tetapi Hindiana tetap melangkah pergi, tidak melanjutkan kisah cinta pilu mereka walau air mata sudah berlinang.
Sementara di seberang sana, air mata yang berlinang sudah menyeberangi kedua pipi. Sosok kuat medan tempur memenangi puluhan perang terlihat menyedihkan. Holanda Mengutuk perbuatannya yang telah menghancurkan hati sang mantan pujangga. Jikalau ia bisa memberontak lalu memukul para wajah petinggi itu, sudah ia lakukan sejak dulu tetapi sekali lagi ia hanya seorang bawahan negara.
Angin laut berbisik di sebelah Holanda, hati yang selalu bersamanya sekarang pergi ditelan samudra menyisakan kenangan. Holanda menatap langit merenungi betapa bodohnya dirinya.
“Sir.. Apa harus kita lanjutkan?” Salah satu prajurit bertanya setelah Holanda berkelana dalam sendu.
Matanya bagai raga kehilangan jiwanya. Suaranya masih stabil walau sudah menurunkan beberapa tetesan air mata. “Mundur. Buatlah tenda sementara, saya pergi sebentar.”
Suatu hari di suatu kehidupan baru, aku harap kita bisa bersama tanpa harus memikul dosa tetua dalam pundak.
Pengarang: ilaw







