Media Parahyangan – Bandung, (14/09/24) di gedung pembelajaran Prancis (IFI Bandung) dihelat agenda “Black September” untuk mengingat berbagai pelanggaran HAM (Hak Asasi Manusia) yang terjadi di Indonesia. Momentum ini digawangi beberapa aktor pembela HAM Kota Bandung seperti Grimloc Record, KontraS, Koalisi September Hitam, dan masih banyak lainya. Selain Sesi diskusi, acara juga menampilkan sejumlah agenda lain seperti pameran grafis, sablon gratis, dan sesi dengar audio-visual.
“Black September” atau September Hitam merupakan upaya untuk merawat ingatan kolektif atas kejadian kejadian masa lampau maupun kontemporer yang terjadi di bulan September dalam kaitannya dengan pelanggaran HAM di Indonesia. Kasus-kasus tersebut seperti Pembunuhan Munir (7/9/2004), Tragedi Semanggi I dan II (tanggal berapa) dan akhir-akhir ini terjadi seperti Peristiwa Kanjuruhan ( tanggal berapa ) dan Tragedi Rempang (tanggal berapa). Sejatinya, ini (peringatan) bukan hal yang baru di Indonesia. Umurnya sudah lebih dari 15 tahun, apabila dihitung sejak aksi kamisan, dimana perhelatan September Hitam pada umumnya digelar bersamaan dengan Aksi Kamisan sepanjang Bulan September. Berbagai masyarakat di daerah-daerah punya caranya sendiri untuk merawat ingatan kolektif atas dosa negara pada rakyatnya tersebut, termasuk masyarakat Kota Bandung.
Seutas Tali Pelanggaran HAM di Indonesia
Koridor pelanggaran HAM di Indonesia adalah permasalahan usang yang tak pernah serius diselesaikan oleh negara. Justru jumlah kasusnya memiliki kecenderungan meningkat.
Dalam sesi diskusi acara Black September, pengunjung dibawa masuk ke rentetan kejadian-kejadian yang terjadi. Kesaksian korban membawa kepada kalut memori kelam yang dialaminya pada bulan ini. Rezim berganti rezim rasanya cukup hadir dan berlalu meninggalkan tanggung jawab penyelesaian apa yang terjadi. Belum ada upaya progresif terhadap penyelesaian kasus yang dilakukan oleh negara. Korban menggarisbawahi pentingnya penyelesaian sebagai itikad serius negara dalam penanganan pelanggaran HAM yang terjadi, bukan malah menimbulkan kasus baru dan menumpuk permasalahan yang sudah terjadi.
“Penting sekali untuk mengambil langkah yang tepat atas permasalahan yang terjadi, karena tindakan negara yang begitu keras gak boleh didiamkan, hal ini dapat menjalar kemana-mana, seperti kanker dalam tubuh kita yang perlahan-lahan menjalar menggerogoti tubuh dan mati, begitupun dengan hal ini jika didiamkan ya bakal mati dan menjalar juga,” tegas Warga Rempang dalam acara Black September
Bandung, Hitam, dan September
Gedung IFI didominasi oleh orang-orang dengan pakaian hitam dengan tujuan mengenang para korban pelanggaran HAM Pemilihan gedung pembelajaran Prancis ini membawa pesan tersirat pada pengunjung bahwa kebudayaan Prancis dapat diterapkan untuk menghakimi negara atas kejahatan-kejahatan kepada warganya.
“Gedung ini, gedung pembelajaran Prancis kayaknya asik juga ya kebudayaan-kebudayaan negara itu kita pake buat hakimin negara atas semua perbuatannya,” tegas Heru, pengunjung acara Black September.
Salah satu yang paling mendapatkan atensi pengunjung adalah sablon gratis untuk menghiasi kaos polos dengan desain khusus untuk perayaan September Hitam (State Murders).
“Ikut nyablon kaos sih pertama untuk bersolidaritas untuk korban, yang kedua sih aku pengen mendidik diri untuk paham betul perilaku negara kepada warganya ternyata jahat juga ya, nah hal itu aku lampiaskan dengan nyablon baju dan bagi ku sih udah dirangkum ya lewat desain baju ini buat mencerminkan perilaku negara kepada warganya,” ucap Kayla, pengunjung di acara tersebut.
___
Penulis: Muhamad Rizki Pirdaus
Editor: Rariq Muhammad








