Pertama kali baca buku ini, gua cuma fokus sama ceritanya. Tentang Winston, tentang Big Brother, tentang dunia yang penuh pengawasan. Menarik sih, tapi masih terasa jauh. Kayak “ah, ini kan cuma fiksi dystopia doang, mana mungkin real sih
Tapi pas baca ulang sekarang, apalagi sambil belajar lebih dalam tentang teori komunikasi dan bagaimana media membentuk realitas, gua jadi lebih tertarik. Ternyata Orwell nggak cuma bikin cerita seram. Dia dengan sadar membongkar gimana kekuasaan itu bekerja: bukan cuma dengan kekerasan fisik, tapi dengan cara mengambil alih bahasa, ingatan kolektif, bahkan kebenaran itu sendiri.
Jadi gini, 1984 tuh cerita tentang seorang cowok biasa bernama Winston Smith. Dia hidup di tahun 1984 versi bayangan George Orwell. Di dunia ini, semuanya dikuasai oleh partai bernama Ingsoc di negara super yang namanya Oseania. Pemerintahannya sadis banget, semua orang diawasi 24 jam lewat layar besar telescreen. Parahnya lagi, pikiran kamu aja bisa dianggap kejahatan. Iya, thoughtcrime—kejahatan pikiran.
Winston sebenarnya muak banget sama sistem gila ini. Diam-diam dia mulai menulis buku harian, padahal itu dilarang keras. Terus suatu hari, dia jatuh cinta sama seorang cewek muda, Julia. Mereka punya hubungan rahasia. Soalnya di dunia ini, punya hubungan pribadi aja dilarang. Buat mereka, itu kayak bentuk perlawanan kecil-kecilan.
Tapi ya namanya juga cerita Orwell, pasti nggak bakal bahagia. Mereka akhirnya ketahuan dan ditangkap sama Polisi Pikiran. Winston digiring ke Kementerian Cinta—ironis banget namanya, padahal tempat penyiksaan. Di sana dia disiksa oleh O’Brien, orang yang sebelumnya dia kira sekutu seperjuangan. Ternyata? O’Brien adalah bagian dari partai.
Puncaknya, Winston dibawa ke Ruang 101. Ini ruangan khusus yang isinya adalah ketakutan terburuk setiap orang. Dan ketakutan terburuk Winston adalah tikus. O’Brien mengancam mau melepaskan tikus-tikus kelaparan ke wajah Winston kalau dia nggak menyerah. Saat itulah Winston hancur. Dia berteriak histeris, “Lakukan itu pada Julia!”
Sejak saat itu, Winston bukan Winston lagi. Dia kehilangan jati diri. Dia bahkan mengkhianati Julia. Dan akhirnya… dia benar-benar mencintai Big Brother—sang pemimpin besar yang dulu dia benci mati-matian. Buku ini ditutup dengan kalimat yang menusuk banget: “Dia mencintai Big Brother.”
Ada kutipan yang gua suka banget satu kutipan yang sampai sekarang masih keinget:
“Who controls the past controls the future. Who controls the present controls the past.”
Kutipan itu nggak cuma relevan buat dunia fiksinya, tapi buat realitas kita sekarang.Coba bayangin, seberapa sering kita menerima informasi tanpa mempertanyakan sumbernya? Seberapa mudahnya kita percaya sama satu narasi hanya karena diulang-ulang terus?
Nah gara gara itu buku ini tuh gak bisa sekali dibaca harus beberapa kali di ulang karena tatabahasa nya yang cukup berat, Dan yang paling menarik buat gua adalah: Orwell Nggak ngasih kita solusi. Nggak ada happy ending, nggak ada pahlawan yang menang. Dia cuman ngasih pertanyaan-pertanyaan yang bisa bikin kita pusing dan, kita harus nyelesain pertanyaan-pertanyaan itu sendiri
Buat yang belum pernah baca, coba aja dulu. Bukunya pun nggak tebal, cuman 300-an halaman. Tapi jangan kaget kalau di pas di akhir kalian jadi lebih skeptis sama berita yang bertebaran dan, hati hati sama kata kata yang kamu pake, mungkin mulai sekarang bakalan ada pertanyaan – sejauh mana kita sebenarnya bebas?
Penulis : Nazril Merdekawan
Editor : Fadhil “Dilly” Luqmaan










