Media Parahyangan – Abu Vulkanik dari erupsi anak krakatau terpantau sudah sampai di Bandung pada hari Minggu (06/09) lalu. Meski demikian, abu vulkanik yang terlihat menempel masih tergolong tipis.
Thaddeus, salah satu mahasiswa yang sedang berada di Ciumbuleuit pada saat kejadian, mengatakan bahwa abu vulkanik yang terlihat tergolong sedikit dan tidak menyebabkan gangguan pernapasan maupun penglihatan yang berarti.
“Abu nya tidak banyak dan tidak kelihatan, tidak ada yang berasa banget dalam pernapasan,” ucap Thaddeus.
Berbeda dengan Olive, yang cenderung lebih sensitif dengan abu ini. Olive menjelaskan pada Media Parahyangan bahwa fenomena ini menyebabkan gangguan pada tubuhnya terutama saluran pernapasan dan kulit.
Pengalaman terkait abu vulkanik ini juga datang dari Adit yang menyadari adanya tumpukan abu hitam pada lantai kediamannya berbeda dengan apa yang biasanya dialami.
“Saya curiga ini abu vulkanik. Jika ini debu biasa tidak setebal ini di lantai depan kos saya,” jelas Adit.
Berdasarkan siaran pers resmi BMKG, penyebaran abu vulkanik ini merupakan hasil dari fase erupsi anak krakatau yang terjadi semenjak Jumat, 4 September. Letusan terakhir tercatat pada Minggu 6 September pukul 03:53 yang terekam pada seismograf selama 30 detik. Tidak hanya Bandung, sebaran abu vulkanik ini juga turut melanda Banten, DKI Jakarta, hingga Bengkulu.
Saat ini, BMKG masih terus memantau dampak dari erupsi Gunung Anak Krakatau. BMKG meningkatkan kesiapsiagaan nasional untuk mengantisipasi dampak lebih lanjut dari erupsi Gunung Anak Krakatau.
Masyarakat yang berada dalam wilayah yang terdampak abu vulkanik diimbau untuk tetap siaga dan tetap tenang. Masyarakat juga diimbau untuk tetap memantau informasi lebih lanjut dari sumber terpercaya.
Penulis : Alicia Vania Elroy
Editor : Jasson Aditya Sudrajat










