Media Parahyangan meliput aksi massa yang bertajuk dengan tema ‘Indonesia Disaster’ di depan Gedung DPRD Jawa Barat pada Senin (15/6) lalu.
Aksi ini merupakan lanjutan dari aksi sebelumnya yang dilakukan oleh gabungan mahasiswa pada Kamis (11/6). Aksi ini mempunyai tuntutan yang sama, namun dengan jumlah massa yang secara mencolok lebih besar.
Tim Redaksi Media Parahyangan mencatat dua hal yang perlu diketahui beberapa jam sebelum aksi massa. Pertama, gabungan mahasiswa yang beranjak pada aksi ini cukup berbeda dari aksi sebelumnya. Kedua, aparat kepolisian tampaknya menggandakan kehadirannya di sekitar titik aksi.
Menurut koordinator lapangan UNPAR, beberapa kampus dan organisasi yang tidak sempat hadir pada aksi sebelumnya sudah membuat perjanjian untuk turun aksi pada hari Senin. Walaupun Sempat ada hawa ketidakpastian, kepastian adanya aksi terlihat di media sosial dengan ajakan seruan aksi dari berbagai organisasi mahasiswa dan media alternatif untuk berkumpul di depan DPRD Jawa Barat.
Aksi dilakukan di depan gedung DPRD Jawa Barat yang diikuti oleh BEM UIN, BEM Universitas Digitech, BEM UNISBA, BEM Muhammadiyah, dan golongan masyarakat sipil lain.
Para massa aksi beranjak dari Tugu UNISBA ke DPRD Jawa Barat pada pukul 14.00. Tetapi, satu jam sebelum massa mahasiswa beranjak di titik aksi, reporter Media Parahyangan mengamati aparat kepolisian dan Brimob sudah siaga memenuhi pinggir jalan Diponegoro, Trunojoyo, Cilamaya, dan Aria Jipang.
Pada aksi ini juga terdapat penampilan teatrikal menarik dari GMNI. Penampilan ini menunjukan 5 orang dengan mulut tertutup dan menampilkan masing-masing sila Pancasila.
“Kita sebagai masyarakat Indonesia, tidak dapat lagi bersuara dengan bebas. Teks sila-sila dari Pancasila menggambarkan bahwa Pancasila pada hari ini tidak lagi hidup, sekarang hanya sekedar teksnya saja,” ujar bakercab GMNI Bandung, menjelaskan makna dari aksi teatrikal tersebut.
Kondisi di lapangan bisa dikatakan kondusif sepanjang berlangsungnya aksi, mahasiswa bergiliran untuk melakukan orasi dan mencoba untuk berdialog dengan negosiator dari Polrestabes Bandung. Beberapa massa bahkan memanfaatkan waktu untuk bermain sepak bola di tengah.
Situasi mulai memanas pada Pukul 17.30 ketika salah satu massa aksi meluncurkan petasan ke arah gedung DPRD dan ke arah rombongan polisi. Hal ini memicu reaksi dari rombongan massa lainnya berusaha untuk melarikan diri dari apa yang diduga sebagai gas air mata yang ditembakkan ke arah massa. Setelah ini, rombongan massa diperintahkan polisi untuk berpencar dari lapangan.
Reporter : Fadhil “Dilly” Luqmaan dan Alicia Vania Elroy







