Media Parahyangan – Perkuliahan yang sudah dimulai kembali menjadi penanda kehidupan kampus yang kembali ramai. Di tengah keramaian mahasiswa ini terdapat satu hal baru yang ikut mulai beroperasi yaitu kantin baru Unpar. Seperti yang dijanjikan oleh rektor pada acara Sore Bersama Rektor bulan Juni lalu, kantin yang bernama Rammah Food Collection ini memiliki sistem food court sama seperti kantin pada universitas di luar negeri.

Area makan yang terdiri dari dua lantai tersebut terpantau cukup ramai dengan pembeli yang datang. Kantin pada siang hari ini dipenuhi oleh mahasiswa dan dosen untuk makan siang.
Menu yang disediakan cukup variatif dengan beberapa menu daging dan sayuran. Selain nasi sebagai karbohidrat, kantin Unpar juga menyediakan alternatif lain seperti roti dan kentang. Sebagai makanan pencuci mulut seperti es krim pun juga tersedia. Selain menyediakan makanan kantin Unpar juga menyediakan beberapa jenis minuman seperti teh, kopi, dan air mineral.
Kantin ini ternyata mengundang mahasiswa yang penasaran untuk mencoba makanan yang ada. Seorang mahasiswa baru yang sempat bersedia untuk diwawancara mengatakan bahwa ia datang karena penasaran dengan adanya kantin ini.
“Kemarin pas osjur ada tur yang lewat kantin. Jadinya ada rasa penasaran.” Ujar Ardi, mahasiswa Informatika angkatan 2024.
Hal yang sama juga dirasakan oleh Ivan, seorang mahasiswa Hubungan Internasional angkatan 2022. Ivan juga penasaran dengan kantin yang baru buka ini. Terlebih lagi sedari awal masuk kantin di Unpar sudah lama tutup.
“sebenarnya ingin nyoba-nyoba aja sih. Karena memang baru dengar juga akan ada kantin di Unpar. Terutama penasaran sama ingin tau juga ada alternatif lain gak yang lebih bagus daripada makanan luar mungkin saja lebih murah atau lebih enak.” Ujar Ivan.
Di samping keindahan kantin yang cukup ramai tersebut, harga dari makanan ternyata tergolong mahal. Menurut kesaksian dari Ardi, di balik makanan kantin yang cukup enak, harga makanan di kantin tergolong mahal.
“Makanannya sih enak dan buat aku pribadi juga mengenyangkan. Tapi kalau dilihat dari harga sih kemahalan. …Kalau dibandingkan dengan restoran-restoran yang jual makanan yang sama kayaknya bisa lebih murah, dan itu juga tingkatan restoran bukan pedagang kaki lima atau food court.” Ujar Ardi.
Mirip dengan Ardi, Ivan juga merasakan hal yang sama terkait harga makanan yang tergolong mahal. Ivan merasa ekspektasinya tentang harga yang lebih murah.
“Untuk ekspektasinya sih ga juga sih sebenernya (tidak sesuai ekspektasi). Maksudnya ga juga bukan dari rasanya atau gimana-gimana, tapi kalau dibandingin sama makanan luar kayak yang dekat Unpar itu dari harga jauh banget. …Jadi menurut saya ga sesuai ekspektasi sih sebenarnya, soalnya saya ingin ke kantin kampus tuh ekspektasinya lebih murah, karena kan ya buat mahasiswa ya, mahasiswa ga semua punya uang sebanyak itu. Karena dari itu ya ga sesuai ekspektasi sih.” Ujar Ivan.
Ivan juga berkata bahwa harganya yang cukup mahal dan porsinya masih kurang membuat ia kurang tertarik untuk datang kembali. Terlebih masih banyak alternatif lain dengan harga yang lebih murah dan banyak.
“Kalau balik lagi untuk sekarang engga sih, bukan berarti gak akan datang kembali. Mungkin jika ada pergantian terkait harganya atau porsinya berubah mungkin akan coba lagi. …Soalnya dari alternatif juga banyak yang lebih enak dan lebih murah sebenernya sih.”
Bahkan ada lagi seorang mahasiswa Unpar yang kami jumpai memberikan pendapatnya terkait kantin baru ini secara eksplisit.
“Mahal mas. Saya biasa makan di legend cuma habis 13 ribuan”. Ujar Wira, mahasiswa Hukum yang enggan menyebutkan angkatannya.
Penulis: Jasson Aditya Sudrajat
Editor: Galih Rifki








