Media Parahyangan – Kegiatan mencari dana usaha (danus) di UNPAR dilakukan oleh mahasiswa saat sebuah Program Kerja berlangsung. Tetapi, tidak sedikit mahasiswa yang mengeluh atas sistem danus yang biasanya diwajibkan untuk dilakukan oleh seluruh pengurus sebuah program kerja.
Danus atau dana usaha adalah hal yang sering ditemui di kampus-kampus. Danus dilakukan oleh staf maupun pengurus program kerja untuk menggalang dana yang dibutuhkan oleh suatu acara. Sistem dana usaha juga berbeda-beda, ada danus yang menerapkan sistem pre-order ada yang langsung berjualan. Sistem danus menuai banyak kritik maupun keluhan dari mahasiswa yang sedang melakukan program kerja (proker). Bahkan keluhan juga muncul dari mahasiswa yang ditawari barang jualan danus.
Keluhan terbanyak mengenai danus adalah sistem denda yang berlaku. Sistem denda berlaku jika barang danus tidak berhasil mencapai target yang ditetapkan. Pengurus proker yang pernah berjualan untuk dana usaha merasa bahwa harga dari barang yang dijual terlalu mahal.
“Sistem denda sebenarnya sudah bagus, tetapi satu-satunya kekurangannya adalah mahalnya danusan dan periode open pre-order yang sangat terbatas. Selain itu, seharusnya ada regulasi tentang barang-barang yang jelas tidak boleh kalian jual. Menurutku juga, staf divisi dasakom (dana usaha dan konsumsi) seharusnya bertanggung jawab sepenuhnya untuk danus,” ujar Olivia, mahasiswa UNPAR yang sempat ikut proker.
Keluhan juga terdengar dari pembeli danus. Keluhan dilontarkan oleh salah satu mahasiswa UNPAR yang pernah membeli danus.
“Aku sangat ga sereg sama harga danus, mahal banget tapi produk yang diterima kecil dan sedikit,” ujar salah satu mahasiswa UNPAR yang enggan menyebutkannya namanya.
Adapun mahasiswa lain juga mengeluarkan keluhannya soal harga danus yang mahal.
“Kadang kasihan sama yang danusan, tapi masalahnya harganya tuh kemahalan. Risol masa bisa nyampe 8000 mbak, biar kenyang harus makan 2-4 biji. Dengan harga segitu mending saya beli nasi aja sekalian mbak,” ujar Adit, mahasiswa FISIP yang enggan menyebutkan angkatannya.
Dana usaha dilakukan untuk memenuhi biaya yang akan dikeluarkan untuk program kerja maupun suatu acara karena dana yang di-acc oleh Direktorat Kemahasiswaan kurang maupun belum turun. Tetapi, berdasarkan observasi dan wawancara, sistem danus proker di UNPAR menyebabkan tekanan finansial kepada mahasiswa yang ingin ikut serta dalam kegiatan organisasi. Mereka berharap bahwa sistem danus harus dievaluasi agar bisa menjadi sarana gotong royong yang transparan dan proporsional, bukan menjadi beban tambahan dalam kegiatan organisasi.
Penulis : Tim Redaksi Media Parahyangan
Editor : Jasson Aditya Sudrajat, Fadhil “Dilly” Luqmaan, “Kapal Laut”








