Media Parahyangan – Menjelang matahari terbit, sepanjang jalanan menuju kampus utama Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) dihiasi oleh beragam warna makara fakultas dan disertai penggunaan atribut yang melambangkan daerah asal peserta inisiasi. Setelah redup selama beberapa bulan, Jalan Ciumbuleuit kembali terlihat krodit pada Selasa, (27/08). Sebanyak 2,330 mahasiswa baru akan mengikuti rangkaian acara perkenalan lingkungan kampus, layanan dan fasilitas, serta organisasi kemahasiswaan di UNPAR kepada mahasiswa baru.
Acara Inisiasi dan Adaptasi (SIAP) mahasiswa baru angkatan 2024/2025 kali ini mengusung tema “Proud To Be Unparian”, yang memiliki pesan ditujukan kepada mahasiswa baru bahwa apapun peran yang mahasiswa miliki di Unpar, mahasiswa dapat menyebutkan diri sebagai unparian dengan bangga, sehingga dapat mengaktualisasikan diri dalam bentuk prestasi yang membawa kebangaan. Bukan hanya untuk pribadi ataupun keluarga, melainkan juga bagi Unpar dan Indonesia.
Berbeda dengan rangkaian SIAP tahun lalu, di tahun ini terdapat tiga fakultas baru yang resmi bergabung sebagai bagian dari Unparian, yaitu Fakultas Kedokteran, Fakultas Ilmu Pendidikan (FKIP), dan program studi Sarjana Terapan Teknologi Rekayasa Pangan. Rangkaian acara inisiasi dan adaptasi dilaksanakan selama empat hari, yakni pada tanggal 27-30 Agustus. Hari pertama dibuka dengan pemaparan materi SINDU kepada mahasiswa baru. Dimana, Mahasiswa baru unpar menapaki perjalanan lembaran baru di jenjang pendidikan perguruan tinggi dengan bimbingan mentor dan Unpar, dengan berdasar nilai Spiritualitas dan Nilai-Nilai Dasar Unpar (SINDU) yang nantinya akan menjadi bekal bagi peserta inisiasi dalam menjalani kehidupan perkuliahan dan dasar untuk mencapai prestasi, pemaparan materi diselingi dengan beragam games yang menjadi tali penghubung peserta inisiasi untuk mengenal satu sama lain.
Acara siap gabungan hari pertama ditutup dengan acara UNPAR Throwback yang mendatangkan dua alumni berprestasi yaitu Didiet Maulana yang berasal dari program studi arsitektur dan Fransiska Dimitri Inkiriwang yang berasal dari program studi hubungan internasional. Mas Didiet adalah seorang perancang busana sekaligus pendiri IKAT Indonesia yaitu brand fashion yang menggunakan seni tenun dalam industri fashion dan bertujuan untuk mempromosikan pengrajin lokal. Salah satu karya terbaru beliau adalah desain baju atlet RI untuk Paralimpiade 2024. Mbak Dimitri yang kerap disapa dengan panggilan dee dee adalah salah satu perempuan indonesia pertama yang berhasil menyelesaikan ekspedisi pendakian gunung-gunung tertinggi dari tujuh benua di dunia atau seven summits of the world.
Kedua alumnus ini membagikan kehidupan kuliah mereka selama mengenyam ilmu di Unpar, menceritakan pengalaman berorganisasi yang dilakukan semasa kuliah, serta membagikan kisah mengapa tertarik kedalam bidang yang mereka tekuni. Sesi sharing dan tanya jawab diakhiri dengan Mas Didiet dan Mbak Dimitri yang memberikan wejangan kepada mahasiswa baru yang akan memulai kehidupan perkuliahannya, “Hal besar itu memang harus dijalani dari hal kecil yang kita lakukan setiap hari. Jadi, temen-temen bisa jadi besar, saya yakin, saya yakin banget. Di Unpar bisa jadi besar dengan komitmen yang teman-teman bisa jalanin day by day.” ujar Mbak Dimitri. Kemudian dilanjutkan dengan Mas Didiet meminta mahasiswa baru untuk menengadahkan kedua tangan mereka, “Saya mengutip dari Charles Swindoll, dia bilang adalah life is 10% that happens to you. Hidup itu adalah sepuluh persen yang terjadi pada kalian. Jadi kalau dari sepuluh jari hidup itu adalah 1 jari, dan sembilan sisa jarinya adalah bagaimana cara kita merespon terhadap keadaan tersebut.” tutur Mas Didiet.
Setelah acara UNPAR Throwback, mahasiswa baru melakukan kegiatan menjawab kuis yang berisikan pertanyaan mengenai kedua alumni tersebut. Kemudian, peserta diarahkan melakukan mobilisasi untuk pulang dan mempersiapkan diri mengikuti rangkaian acara SIAP hari ke-2 esok harinya.
Penulis: Triana Pratiwi
Editor: Rariq Muhammad








