Media Parahyangan – Pada hari Rabu, (02/10) lalu Sastra dan Teater Unpar (Satre) mengadakan diskusi umum dengan tema literasi, yaitu Safari Literasi. Acara ini merupakan hasil dari pengembangan konsep baru yang digagas oleh Divisi Sastra Satre.
Acara Safari Literasi ini memiliki konsep diskusi terbuka mengenai keadaan literasi di Indonesia.
“Kami mengemukakan bahwa suatu saat dapat membuka kesempatan untuk mengumpulkan orang-orang yang punya kemauan untuk menulis, maka (dengan ini) kita dapat membuka ruang diskusi tersebut.” Ujar Aldian, Ketua Divisi Sastra Satre dalam peloporan konsep acara Safari Literasi.
Topik pembicaraan sengaja dibuat umum untuk memantik diskusi di antara berbagai narasumber dengan latar belakang yang beragam, mulai dari jurnalis Media Parahyangan, Penerbit sekaligus pegiat zine Berkawan Sekebun, mahasiswa Fakultas Filsafat sekaligus penerbit media “Okult Zine”, hingga dua dosen FISIP, Trisno Sakti Hermawan dari program studi Administrasi Publik dan Daniel Hermawan dari program studi Administrasi Bisnis.
Aldian kembali mengungkapkan bahwa acara ini bertujuan untuk membongkar anggapan generalisasi bidang studi Sastra yang hanya bergerak dalam bidang Seni Budaya. Lebih daripada itu, sastra juga merupakan sebuah fenomena yang mencakup pola pikir seseorang dalam mengolah informasi baik dalam bentuk tulisan, gambaran, ataupun musik.
“Literasi sewajarnya dipandang melalui sudut pandang yang menyeluruh (holistik), di mana tidak hanya mencakup kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan menggambar/visual”, sebagaimana yang diungkapkan Dinda dari Berkawan Sekebun.
Acara tersebut menimbulkan beberapa topik diskusi yang menarik, beberapa topik yang kemudian memantik diskusi tersebut diantaranya adalah mengenai fokus pada peningkatan kemampuan literasi. Dalam diskusi ini Daniel mengungkapkan bahwa mengembangkan kemampuan literasi dapat diawali dengan rasa ingin tahu terhadap hal yang kita sukai.
“Seseorang dapat meningkatkan literasi ketika ia punya rasa ingin tahu akan hal yang kita sukai, sebab esensi dari literasi berawal dari mengembangkan hal tersebut melalui kegiatan berliterasi seperti membaca, menulis, dan melihat,” ucap Daniel.
Terkait dengan angka literasi Indonesia, Sakti mengungkapkan bahwa meskipun Indonesia memiliki angka keaksaraan yang tinggi, namun hal ini bertolak belakang dengan kemampuan literasi yang masih rendah, terutama pada kalangan siswa Indonesia sebagaimana ditunjukkan pada hasil tes Programme for International Student Assessment (PISA).
“Kita jangan melupakan bahwa literasi juga merupakan sarana pertukaran ilmu dari manapun dan siapapun, sebagaimana direfleksikan dari tema Safari Literasi itu sendiri,” ujar Sakti.
Diskusi yang dilakukan pun menimbulkan pertanyaan di antara peserta dan juga narasumber.
“Sejauh ini diskursus membahas karya tulis bagi yang suka membaca, dapatkah hal yang sama dinyatakan bagi seseorang yang tidak suka membaca?” Tanya salah seorang peserta.
Para narasumber pun menanggapi bahwa meskipun kemauan mendasar dapat membujuk penulisan suatu karya tulis, bisa dibayangkan akan cukup sulit untuk mengembangkannya dikarenakan suatu karya tulis yang dihasilkan sebenarnya harus dimulai dan juga didapat dari wawasan yang diperoleh pada saat membaca.
Selebihnya, diskursus Safari Literasi juga menyinggung topik lainnya seperti peran literasi dalam penggunaan media sosial di Indonesia, framing media mengenai konsepsi politik terhadap masyarakat, ancaman AI terhadap sektor industri kreatif dan dampaknya terhadap edukasi politik di Indonesia, serta intisari diskusi ala Safari Literasi dalam mengubah wacana masyarakat terkait literasi pada umumnya.
Setelah sesi diskusi berakhir, peserta Safari Literasi juga diberi kesempatan untuk membuat karya Zine bersama Berkawan Sekebun.

Pasca Safari Literasi, Aldian mengungkapkan rasa Syukur atas kelancaran berlangsungnya prosesi acara diskusi tersebut.
“Saya berharap Safari Literasi dapat menjadi permulaan konsep acara yang baru, baik untuk SATRE ataupun komunitas lainnya di lingkungan Unpar,” tutupnya.
Penulis: M.Fadhil Luqmaan R
Editor: Jasson Aditya Sudrajat








