Media Parahyangan
Advertisement
  • Home
  • Berita
    • Bandung
    • Nasional
    • Liputan Kampus
    • Editorial
  • Sesi Kajian Khusus
    • Understanding Issues
  • Kolom Parahyangan
    • Opini
    • Esai
    • Interview
    • Podcast
  • Culture
    • Musik
    • Seni
    • Buku
    • Lifestyle
  • Galeri
  • Majalah
  • Arsip
  • Tentang Kami
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Bandung
    • Nasional
    • Liputan Kampus
    • Editorial
  • Sesi Kajian Khusus
    • Understanding Issues
  • Kolom Parahyangan
    • Opini
    • Esai
    • Interview
    • Podcast
  • Culture
    • Musik
    • Seni
    • Buku
    • Lifestyle
  • Galeri
  • Majalah
  • Arsip
  • Tentang Kami
No Result
View All Result
Media Parahyangan
No Result
View All Result
Home Esai

Meningkatkan Literasi Untuk Menata Masa Depan Anak Indonesia

Media Parahyangan by Media Parahyangan
14 January 2026
in Esai, Opini
Sumber : MileniaNews

Literasi merupakan kemampuan penting yang menjadi dasar bagi anak-anak untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, memahami informasi, serta membentuk karakter yang kuat. Di era digital seperti sekarang, akses terhadap informasi sangat mudah diperoleh melalui teknologi, namun kemampuan anak dalam memanfaatkan informasi tersebut secara produktif justru menunjukkan tantangan tersendiri. Literasi yang kuat tidak hanya menentukan keberhasilan akademik anak, tetapi juga kualitas sumber daya manusia suatu bangsa di masa depan. 

Namun dengan perkembangan zaman konteks literasi ini didefinisikan semakin meluas, dan literasi ini bukan hanya sekedar proses seseorang dalam melakukan kegiatan membaca dan menulis. Dari beberapa pendapat diatas maka dapat disimpulkan bahwa literasi itu merupakan kegiatan atau aktivitas yang melibatkan kemampuan membaca, menulis, berbicara serta memecahkan masalah. Maka secara garis besar literasi ini bukan hanya sekedar kegiatan membaca dan menulis saja, namun setiap kegiatan yang melibatkan kemampuan berkomunikasi, berfikir serta memecahkan suatu masalah bisa disebut dengan kegiatan literasi. 

Pada kehidupan saat ini, banyak anak yang menunjukkan rendahnya minat terhadap kegiatan membaca. Mereka cenderung menghabiskan waktu bermain media sosial atau bermain gim. Mereka menganggap bahwa budaya membaca di Indonesia saat ini kurang mendukung minat literasi anak, sehingga minat tersebut berkurang. Anak sekarang menganggap bahwa memegang buku sama saja mereka mengancam dirinya sendiri. Pada akhirnya anak lebih memilih untuk mengikuti tren terkini dan memilih hal yang menyenangkan bagi dirinya sendiri. Seperti yang kita ketahui bahwa gaya hidup instan adalah gaya hidup, di mana hal yang paling diinginkan oleh anak, karena segalanya akan serba cepat, serba mudah, dan efisien. Dengan cara instan tersebut juga menjadi hiburan yang paling ditunggu bagi anak Indonesia.

Fenomena ini terjadi di tengah kenyataan bahwa pengguna internet di Indonesia terus meningkat signifikan. Jumlah pengguna internet telah mencapai lebih dari 229 juta orang pada tahun 2025, menunjukkan bahwa hampir delapan dari sepuluh penduduk Indonesia sudah terhubung ke internet. Dominasi Generasi Z dan generasi muda lainnya dalam penggunaan internet menunjukkan bahwa anak-anak Indonesia menghabiskan waktu yang cukup besar untuk menggunakan semua portal media di dunia maya. Lebih dari sepertiga pengguna menghabiskan waktu 4–6 jam per hari di internet, sementara persentase yang mengakses internet hingga lebih dari 10 jam per hari juga meningkat. 

Sejalan dengan itu, data survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan bahwa perilaku pengguna internet di Indonesia, yang sebagian besar adalah generasi muda, lebih banyak menggunakan internet untuk hiburan dan media sosial dibandingkan untuk kegiatan yang produktif seperti pembelajaran. Sementara tujuan penggunaan internet untuk pembelajaran berada pada persentase yang jauh lebih rendah dibandingkan hiburan, sesuai data survei yang ada menunjukkan bahwa internet lebih dimanfaatkan sebagai sarana hiburan ketimbang sebagai media bantu untuk membaca dan belajar secara produktif. 

Literasi pada masyarakat Indonesia tergolong rendah dibandingkan dengan negara-negara lainnya. Laporan PISA merupakan salah satu tolak ukur yang dipakai dalam mengubah pemikiran pelaku pendidikan akan kualitas yang dipakai di berbagai negara tidak terkecuali Indonesia. PISA (Programme For International Student Assessment) merupakan sistem pengujian yang diprakarsai oleh Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD), organisasi tersebut mengevaluasi sistem pendidikan dari 72 negara yang berpartisipasi. Program ini untuk mengukur prestasi bagi anak usia 15 tahun pada bidang kemampuan matematika, sains dan literasi membaca, penilaian ini dilakukan oleh PISA setiap tiga tahun sekali, PISA sering dijadikan sebagai patokan dan evaluasi terhadap kualitas suatu negara yang menjadi peserta yang dilakukan oleh PISA. 

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Programme For International Student Assessment (PISA) menyebutkan bahwa kategori kemampuan membaca, Indonesia berada di peringkat ke 74 dari 79 negara. Hasil penelitian ini dapat dilihat bahwa aspek literasi di Indonesia ini perlu dibenahi karena Indonesia menjadikan laporan penilaian PISA sebagai dasar untuk melakukan pembenahan terhadap kurikulum yang di Indonesia. 

Seperti yang kita lihat saat ini, permasalahan yang dihadapi anak-anak bukan hanya mengenai gawai yang seru, tetapi juga bagaimana mengembalikan minat baca mereka. Anak-anak cenderung lebih memilih hiburan yang menyenangkan dan instan dibandingkan membaca buku, meskipun mereka mengetahui bahwa membaca merupakan jendela dunia. Kondisi ini menjadi genting karena rendahnya literasi dapat berdampak buruk bagi masa depan anak. Gawai yang menawarkan konten cepat, berwarna, dan interaktif membuat anak menjadi tidak sabar untuk melakukan kegiatan membaca yang membutuhkan waktu, terutama pada teks yang panjang. Dampaknya, anak mengalami keterbatasan kosakata, imajinasi yang kurang berkembang, penurunan nilai akademis, serta berkurangnya rasa empati akibat minimnya membaca cerita. 

Bahwa hal yang perlu digarisbawahi adalah peningkatan literasi anak harus menjadi prioritas utama dalam menata masa depan anak Indonesia karena tanpa literasi yang kuat, anak-anak akan kesulitan mengembangkan keterampilan berpikir kritis, memperluas wawasan, dan menjadi generasi yang mampu bersaing secara akademis dan sosial serta perlu diperbaiki kurikulum pendidikan di Indonesia. 

Selain itu, terdapat beberapa negara yang berhasil mengubah kebiasaan rendahnya minat baca menjadi budaya literasi yang kuat melalui pendekatan kebijakan yang inovatif. Negara-negara seperti India, Finlandia, dan Georgia menunjukkan bahwa peningkatan literasi dapat dicapai melalui strategi yang sesuai dengan kondisi sosial, budaya, dan ekonomi masyarakatnya. Pengalaman ketiga negara ini menjadi pembelajaran penting bagi Indonesia dalam merancang kebijakan literasi yang lebih efektif. 

India berhasil meningkatkan tingkat literasi nasional dari sekitar 65% pada tahun 2001 menjadi sekitar 77% melalui pendekatan berbasis pemerataan akses dan partisipasi masyarakat. Keunikan pendekatan India terletak pada program nasional seperti Sarva Shiksha Abhiyan yang menjamin pendidikan gratis dan wajib hingga usia 14 tahun, serta kampanye Read India yang membangun perpustakaan desa dan menyediakan buku murah dalam berbagai bahasa lokal. India juga memanfaatkan relawan, media sosial, dan tokoh publik untuk mengampanyekan membaca,

sehingga literasi diposisikan sebagai kunci pembangunan ekonomi. Pendekatan ini relevan bagi Indonesia yang juga memiliki keragaman bahasa dan wilayah, namun masih menghadapi ketimpangan akses literasi antara perkotaan dan pedesaan. 

Finlandia menonjol melalui pendekatan literasi yang berfokus pada kesenangan belajar dan keterlibatan keluarga. Meskipun pernah memiliki tingkat literasi rendah pada awal abad ke-20, Finlandia berhasil membangun budaya baca dengan menjadikan sekolah sebagai ruang belajar yang menyenangkan, tanpa tekanan ujian berlebihan. Anak-anak dibiasakan membaca sejak usia dini melalui jam cerita harian dan perpustakaan sekolah, sementara orang tua dilibatkan melalui pendidikan parenting literasi. Pendekatan ini berbeda dengan Indonesia yang masih cenderung menekankan capaian akademik dan ujian, sehingga minat baca anak sering terabaikan. 

Georgia mengadopsi pendekatan literasi berbasis teknologi dan penguatan literasi fungsional. Meskipun tingkat literasi dasar Georgia tergolong tinggi, negara ini menghadapi tantangan dalam pemahaman teks dan berpikir kritis. Untuk mengatasinya, Georgia meluncurkan platform buku digital gratis, festival buku nasional, serta kurikulum yang menekankan analisis teks sejak pendidikan dasar. Pendekatan ini menunjukkan bahwa literasi tidak hanya soal bisa membaca, tetapi juga memahami dan menggunakan informasi secara kritis. Hal ini relevan dengan kondisi Indonesia yang menghadapi dominasi gawai, namun belum optimal memanfaatkannya sebagai sarana literasi. 

Berdasarkan perbandingan tersebut, Indonesia dapat mengadopsi pendekatan gabungan dari ketiga negara dengan menyesuaikannya pada konteks nasional. Dari India, Indonesia dapat memperkuat literasi berbasis komunitas dan bahasa lokal; dari Finlandia, menumbuhkan budaya baca yang menyenangkan sejak usia dini dengan melibatkan keluarga; dan dari Georgia, memanfaatkan teknologi digital secara produktif melalui platform buku dan kegiatan literasi kreatif. Pendekatan terpadu ini penting mengingat tingginya durasi penggunaan internet anak Indonesia, yang saat ini lebih banyak dimanfaatkan untuk hiburan dibandingkan kegiatan membaca dan belajar. 

Peningkatan literasi anak harus menjadi prioritas utama dalam menata masa depan anak Indonesia, karena literasi berperan penting dalam membentuk kemampuan berpikir kritis, karakter, dan kesiapan anak menghadapi tantangan digital. Tingginya penggunaan gawai dan gaya hidup instan membuat anak lebih memilih hiburan cepat dibandingkan membaca, sehingga melemahkan kebiasaan literasi sejak dini. 

Pemerintah Indonesia telah merespons persoalan ini melalui Gerakan Literasi Nasional, seperti kegiatan membaca 15 menit di sekolah, penguatan perpustakaan, serta penyediaan bacaan digital melalui iPusnas. Selain itu, program literasi digital Kominfo mendorong penggunaan internet secara bijak dan pendampingan orang tua. Namun, tingginya durasi screen time anak yang lebih banyak digunakan untuk hiburan menunjukkan bahwa kebijakan ini masih perlu diperkuat dalam praktik. Hal ini bertentangan dengan rekomendasi WHO yang menekankan pembatasan waktu layar anak demi perkembangan kognitif yang optimal. 

Peran orang tua menjadi faktor kunci dalam keberhasilan literasi anak. Kampanye hak baca anak sejak 2023 menegaskan pentingnya menyediakan akses buku, membaca bersama anak minimal 15 menit per hari, serta keteladanan orang tua. Temuan ilmiah dari judul artikel PLOS ONE (2023) menunjukkan bahwa paparan buku dan interaksi orang dewasa berdampak positif pada perkembangan bahasa anak, sementara penggunaan layar berlebihan justru menghambatnya. 

Dibandingkan negara lain, Indonesia masih tertinggal dalam membangun budaya baca. India menekankan literasi berbasis komunitas dan bahasa lokal, Finlandia menumbuhkan minat baca melalui pembelajaran yang menyenangkan, dan Georgia memanfaatkan teknologi sebagai sarana membaca. Oleh karena itu, Indonesia perlu mengintegrasikan kebijakan pemerintah, peran sekolah, dan keluarga agar literasi anak dapat berkembang secara berkelanjutan. 

Cara mengatasi rendahnya literasi anak saat ini dapat dilakukan dengan membiasakan membaca dan menulis secara teratur melalui buku, majalah, atau konten digital yang sesuai minat anak. Selain itu, penting untuk menyediakan akses terhadap sumber literasi seperti perpustakaan, buku cetak maupun digital, serta melibatkan orang tua dalam kegiatan membaca bersama dan berdiskusi. Sekolah juga berperan dengan mengintegrasikan literasi ke dalam kurikulum melalui kegiatan membaca dan menulis kreatif serta pemanfaatan teknologi literasi. 

Meskipun era gawai menjadi tantangan besar, kondisi ini dapat diubah menjadi peluang, dengan belajar dari negara seperti India, Finlandia, dan Georgia. Indonesia dapat mengembangkan budaya literasi yang lebih adaptif dan modern. Serta disarankan penulis untuk  dilakukan penelitian kemampuan literasi anak usia 5-6 tahun melalui media buku ilustrasi dan peningkatan literasi perlu dimulai dari lingkungan rumah, sekolah, dan kesadaran diri agar anak Indonesia tidak tertinggal di masa depan.

Penulis : Chesya Caroline Siahaan

Editor : Fadhil “Dilly” Luqmaan

 

DAFTAR PUSTAKA 

Perpustakaan. (2025, November 7) 4 cara meningkatkan literasi pada anak dan remaja. Perpustakaan. https://lib.ub.ac.id/berita/4-cara-meningkatkan-literasi-pada-anak-dan-remaja/. 

UNESCO. (2012, November 22). Stumbling blocks to universal primary education: Repetition rates decline but dropout range remain high. UNESCO. https://www.unesco.org/en/articles/stumbling-blocks-universal-primary-education-repetition-rate s-decline-dropout-rates-remain-high. 

World Bank Group. (2012, Mei 17). India: Issues and Priorities for Agriculture. World Bank Group. 

https://www.worldbank.org/en/news/feature/2012/05/17/india-agriculture-issues-priorities. 

Schleicher, Andreas. (2014, Oktober 17). Strong Performers and successful reformers in education. IBAEM. https://www.ibo.org/contentassets/71f2f66b529f48a8a61223070887373a/keynote-andreas-schlei cher.pdf. 

Yusran, Izza Ariqah Resqia. (2024, February 1). Rendahnya minat literasi di Indonesia. Kalla Institute. https://kallainstitute.ac.id/rendahnya-minat-literasi-di-indonesia/. 

UNESCO. (2021). Pelaku nonpemerintah dalam pendidikan. UNESCO. https://unesdoc.unesco.org/ark:/48223/pf0000380076_ind (halaman 20 – 23). 

Sinaga, Tatang Mulyana. (2025, Juni 12). ”Screen Time” Berlebihan Memicu Masalah Emosional Anak. Kompas.id https://www.kompas.id/artikel/screen-time-berlebihan-memicu-masalah-emosional-anak (diakses tanggal 19 Desember 2025).

Arif, Ahmad. (2025, Februari 8). Kurangi Paparan Layar, Tingkatkan Waktu Membaca Buku Bersama Anak Balita. Kompas.id https://www.kompas.id/artikel/kurangi-paparan-layar-tingkatkan-waktu-membaca-buku-bersama -balita? (diakses tanggal 19 Desember 2025). 

Napitupulu, Ester Lince. (2024, Oktober 28). Penuhi Hak Baca Anak untuk Atasi ”Screen time” Berlebih. Kompas.id.  https://www.kompas.id/artikel/penuhi-hak-baca-anak-untuk-atasi-screentime-berlebih (diakses tanggal 19 Desember 2025). 

Duerden, Dr. Emma. (2025, Februari 5). Use of screens, books and adults’ interactions on toddler’s language and motor skills: A cross-cultural study among 19 Latin American countries from different SES. PMC. Use of screens, books and adults’ interactions on toddler’s language and motor skills: A cross-cultural study among 19 Latin American countries from different SES – PMC (diakses tanggal 19 Desember 2025). 

A, Shahibah. (2025, November 2). Hanya 11% Penduduk RI yang Gunakan Internet untuk Belajar. GoodStats Data. https://data.goodstats.id/statistic/hanya-11-penduduk-ri-yang-gunakan-internet-untuk-belajar-87d N5 (diakses tanggal 19 Desember 2025). 

Mediana, Caecilia. (2025, Augustus 6). 229 Juta Pengguna Internet di Indonesia, Pasar Menggiurkan bagi Perusahaan OTT. Kompas.id.  https://www.kompas.id/artikel/229-juta-pengguna-internet-di-indonesia-pasar-menggiurkan-bagi -perusahaan-ott?status=sukses_login&status_login=login&loc=hard_paywall (diakses tanggal 20 Desember 2025). 

Suharni, Arlian Firda and Suharn. (2022) “Tingkat Kemampuan Literasi Sains Guru Pendidikan Anak Usia Dini”.

Tags: Anak MudaLiterasiMembacaPenalaran Kritis
Previous Post

Deforestasi Hutan Adat Papua dan Dampaknya terhadap Masyarakat Adat Papua dan Perubahan Iklim Global

Next Post

Menolak Lupa: Very Kurnia, Korban Salah Tangkap Demo Augustus Lalu

Post Terkait

IGRS Menjadi Bukti dari Inkompetensi Kemkomdigi dalam Mengurus Industri Digital
Understanding Issues

IGRS Menjadi Bukti dari Inkompetensi Kemkomdigi dalam Mengurus Industri Digital

26 April 2026
Budaya percakapan seksual laki-laki: Sudahkah Perempuan Memiliki Otonomi atas Tubuh?
Nasional

Budaya percakapan seksual laki-laki: Sudahkah Perempuan Memiliki Otonomi atas Tubuh?

18 April 2026
Sumber : Antara Foto
Esai

Deforestasi Hutan Adat Papua dan Dampaknya terhadap Masyarakat Adat Papua dan Perubahan Iklim Global

14 January 2026
Sumber : https://kontrakhukum.com/media/2024/09/Legal-Drafting-vs-Contract-Drafting.jpg
Esai

Risiko penggunaan AI dalam pembuatan dokumen hukum

14 January 2026
Monopoli BBM : Menjaga Kedaulatan Negara atau Kematian Persaingan Pasar
Esai

Monopoli BBM : Menjaga Kedaulatan Negara atau Kematian Persaingan Pasar

13 January 2026
Pahlawan Bagi Siapa? Kontroversi Dibalik Gelar Pahlawan  Soeharto
Opini

Pahlawan Bagi Siapa? Kontroversi Dibalik Gelar Pahlawan Soeharto

13 January 2026
Next Post
Menolak Lupa: Very Kurnia, Korban Salah Tangkap Demo Augustus Lalu

Menolak Lupa: Very Kurnia, Korban Salah Tangkap Demo Augustus Lalu

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru

  • Muncul Surat Ancaman Bom Pada Wisuda Tahap II, BEM Unpar Sebarkan Pesan Darurat

    Muncul Surat Ancaman Bom Pada Wisuda Tahap II, BEM Unpar Sebarkan Pesan Darurat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berulah Menjelang Turun Jabatan, Ketua BEM Unpar Minta Maaf

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • #TidakSIAP2024: Makan Siang Peserta SIAP Tidak Layak Konsumsi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sempat Memperingati Supersemar, BEM UNPAR Tarik Kembali Unggahan Mereka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kantin Unpar Sudah Buka, Mahasiswa: Banyak Alternatif yang Lebih Murah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • “Ketidakstabilan Ekonomi Menciptakan Pelecehan Hak Asasi Manusia Etnis Tionghoa”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kencangkan Sabuk Pengaman, Per Semester Ganjil 2025/2026 UKT Tahap Satu Naik!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • “Kesenjangan Gender di Era Modern: Menghadapi Sistem yang  Menyudutkan Perempuan” 

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Follow Our Social Media
Spotify Instagram Youtube

Informasi

  • Tentang Kami
  • Pertanyaan Umum (FaQ)
  • Guideline Kolom Submisi
  • Pendaftaran Anggota Jurnalis MedPar

Kontak

  • Email Kolom Submisi : kompendiumprodukmp@gmail.com
  • Email Media Partner : ukm_mp@unpar.ac.id

Alamat

Jl. Ciumbuleuit No.94, Hegarmanah, Kec. Cidadap, Kota Bandung, Jawa Barat 40141

Copyright © 2023 Media Parahyangan

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Bandung
    • Nasional
    • Liputan Kampus
    • Editorial
  • Sesi Kajian Khusus
    • Understanding Issues
  • Kolom Parahyangan
    • Opini
    • Esai
    • Interview
    • Podcast
  • Culture
    • Musik
    • Seni
    • Buku
    • Lifestyle
  • Galeri
  • Majalah
  • Arsip
  • Tentang Kami

© 2024 Media Parahyangan

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist