Media Parahyangan – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNPAR akhirnya meminta maaf terkait unggahan peringatan Surat Peringatan Sebelas Maret (Supersemar) di laman Instagram mereka pada Sabtu (3/21) lalu. Sebelumnya BEM sempat mengunggah peringatan Supersemar pada laman instagram mereka.
Sontak unggahan ini menuai banyak kritik dari mahasiswa UNPAR. Pihak yang paling lantang melontarkan kritikan adalah Kolektif Parahyangan Menggugat yang melalui Instagram Story mereka, memberikan kritikan tajam kepada pihak BEM.
Pasalnya Supersemar masih menjadi topik yang kontroversial dalam sejarah Indonesia. Kontroversi dari surat ini meliputi keaslian dari naskah tersebut hingga arti dari surat tersebut yang multitafsir.
Apalagi Supersemar menjadi surat transisi kekuasaan dari Orde Lama menuju Orde Baru. Orde Baru sendiri menjadi era yang kental dengan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang masih menyayat hati para korban.
Usai mendapatkankan kritik dan hujatan dari banyak pihak. Di hari Rabu (18/03), BEM langsung menghapus unggahan tersebut tanpa memberikan komentar atau pernyataan apapun kepada publik.
Pihak BEM memilih untuk tidak memberikan komentar ketika dihubungi oleh tim Media Parahyangan terkait masalah unggahan tersebut. Pada saat yang sama, Pihak BEM lebih dahulu mengeluarkan klarifikasi terkait akun mereka yang diretas oleh pihak tidak bertanggung jawab.
Setelah mendapatkan kritik dari Kolektif Parahyangan Menggugat hingga kami sendiri menulis berita mengenai unggahan BEM satu ini. Pada Sabtu (20/03) kemarin, BEM UNPAR akhirnya mengeluarkan surat pernyataan mereka melalui Instagram Story yang disimpan dalam tautan Google Docs.
Melalui surat pernyatan tersebut, BEM yang diwakili oleh Ketua Benedictus Jonathan Byron menyatakan permohonan maaf atas unggahan peringatan Supersemar tersebut. “…kami menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas segala kegaduhan serta keresahan yang timbul akibat unggahan BEM UNPAR pada 11 Maret 2026, yang telah kami turunkan,” ketik BEM dalam surat pernyataannya.
Lebih jauh lagi, BEM pun memberikan klarifikasi bahwa tidak ada niatan dalam merayakan Supersemar. Namun dalam pembelaan mereka, mereka menganggap adanya kekeliruan penulisan dalam unggahan mereka.
“Unggahan tersebut bertujuan untuk memberikan informasi kepada masyarakat bahwa Indonesia pernah mengalami peristiwa tersebut. Namun, kami menyadari adanya kekeliruan dalam penulisan yang menimbulkan berbagai penafsiran, sehingga kami memohon maaf atas hal tersebut,” ujar ketua BEM dalam surat pernyataanya.
Meski telah mengeluarkan surat pernyataan, nyatanya hal ini tetap membuat banyak mahasiswa kecewa. Kekecewaan terbesar datang dari betapa telatnya BEM untuk mengeluarkan pernyataan terkait masalah ini, apalagi BEM seolah kabur menghilang setelah unggahan tersebut dihapus.
Kegaduhan BEM ini harus menjadi pelajaran bagi BEM itu sendiri. Pasalnya BEM sendiri berdiri sebagai organisasi tertinggi mahasiswa, menjadi pihak utama yang akan selalu mewakili mahasiswa.
Karena apabila mereka sendiri menghilang setelah kesalahan yang mereka buat sendiri, lantas apakah mereka sendiri memiliki kapabilitas untuk dapat mewakili suara-suara kita sebagai mahasiswa?
Penulis : Joshua Adriel Suhandi
Editor : Fadhil ‘Dilly” Luqmaan








