Perbedaan kinerja yang cukup signifikan antara generasi di era globalisasi dan teknologi yang berkembang pesat. Hal ini cukup kompleks karena, setiap generasi memiliki pola pikir, cara kerja, manajemen waktu, dan pandangan yang berbeda sehingga setiap generasi memiliki karakteristik yang beragam. Ketimpangan ini menciptakan tantangan bagi setiap generasi agar menjadi suatu organisasi yang utuh. Strategi manajemen multigenerasi akan menjadi salah satu cara untuk menyelesaikan ketimpangan yang terjadi.
John A. Pearce II dan Richard B. Robinson dalam bukunya Strategic Management (2003) menyatakan bahwa manajemen strategis adalah perencanaan skala besar dan jangka panjang yang memungkinkan organisasi untuk berinteraksi secara efektif dalam proses produksi, sekaligus mengoptimalkan pencapaian tujuan strategis dan operasional. Strategi manajemen dapat berjalan dengan efektif apabila, semua anggota dapat bekerja sama dan satu suara. Meskipun sulit, jika ingin mencapai tujuan bersama, harus terdapat pemecahan masalah yang efektif. Banyak cara yang dapat dilakukan, seperti mengetahui karakteristik, tantangan, dan strategi dalam mengelola tim multigenerasi, dengan menerapkan ketiga hal tersebut, strategi manajemen akan berjalan dengan efektif dan efisien.
Karakteristik Multigenerasi di Tempat Kerja
Memahami karakteristik tiap generasi di tempat kerja sangat diperlukan untuk menghindari konflik. Boomers (1946 – 1964), mereka tumbuh dan berkarier pada pasca-Perang Dunia II. Mereka lebih mengedepankan kesetiaan pada suatu pekerjaan yang dianggap sebagai nilai penting, sehingga karier mereka cukup stabil khususnya di industri dan berbagai sektor. Boomers memberikan pekerjaannya dengan suatu dedikasi, tanggung jawab, dan ketekunan dalam melaksanakan tugas. Mereka memiliki pengalaman kerja yang luas karena memiliki jaringan profesional yang luas dan pemahaman yang mendalam tentang dinamika berorganisasi, sehingga mereka mampu untuk menyelesaikan dan mengelola masalah dalam dunia kerja.
Generasi X (1965 – 1980), mereka tumbuh di tengah perubahan sosial dan teknologi yang sedang berkembang. Transisi yang dialami dari cara kerja yang tradisional menjadi teknologi digital, meskipun belum sepenuhnya lahir di dunia digital. Generasi X tumbuh di era dimana orang tua mereka sibuk untuk bekerja sehingga secara tidak langsung menumbuhkan sikap kemandirian, fleksibel, dan kebebasan dalam bekerja karena, mereka dituntut untuk belajar mandiri sejak usia dini. Mereka cenderung memilih komunikasi yang jelas, jujur, dan tatap muka agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Generasi Milenial (1981 – 1996), mereka tumbuh di era perkembangan teknologi yang sangat pesat. Mereka sangat menghargai perbedan, menjunjung kesetaraan gender dan memiliki kepedulian yang tinggi terhadap pekerjaan yang sedang mereka jalani. Generasi Milenial cenderung menyukai tantangan yang diberikan karena mereka menganggap dengan adanya tantangan, mereka mendapatkan kesempatan untuk belajar dan berkembang. Tumbuh dengan teknologi membuat mereka terampil dengan berbagai perangkat digital, multitasking, sehingga dapat beradaptasi dengan perkembangan teknologi yang baru dan dengan cepat memperoleh kemampuan untuk bekerja dalam tim untuk mencapai visi dan misi suatu organisasi dengan bantuan teknologi.
Generasi Z (1997 – 2012), mereka tumbuh di era teknologi yang sudah canggih dan masih terus berkembang. Generasi Z memprioritaskan kebahagiaan, mereka akan memilih berhenti kerja atau menganggur jika pekerjaan tersebut tidak berdampak positif pada hidupnya. Generasi Z terbuka akan kritik dan saran sehingga, mereka akan termotivasi untuk bekerja dengan lebih baik dan terus mau berkembang. Mereka juga mengutamakan fleksibilitas dan kebebasan agar mereka dapat bekerja dengan efisien.
Tantangan Multigenerasi dalam Suatu Organisasi
Tantangan yang dihadapi dalam suatu organisasi cukup kompleks. Terdapat perbedaan gaya komunikasi multigenerasi yang sangat berpengaruh dalam kinerja dalam sebuah organisasi. Generasi Baby Boomers dan Generasi X memiliki banyak kesamaan karena memiliki nilai-nilai yang lebih konservatif atau tradisional dibandingkan dengan Generasi Milenial dan Generasi Z. Generasi Baby Boomers dan Generasi X cenderung lebih suka berbicara tatap langsung atau melalui telepon, sementara Generasi Milenial dan Generasi Z cenderung menyukai teknologi digital seperti messaging app atau video call.
Prioritas dan motivasi kerja multi generasi yang membuat ketegangan sering muncul terjadi akibat perbedaan prioritas, Generasi Baby Boomers dan Generasi X lebih mengedepankan stabilitas pekerjaan dan kesetiaan. Sedangkan, Generasi Milenial dan Generasi Z lebih mengedepankan fleksibilitas dan keseimbangan antara kehidupan pekerjaan dan kehidupan pribadi, serta kesempatan untuk bekembang dan berdampak. Keterampilan teknologi multigenerasi berdampak pada kesenjangan yang tampak terlihat dari Generasi Milenial dan Generasi Z yang dapat beradaptasi dan berkembang dengan cepat mengenai kemajuan teknologi. Berbeda dengan Generasi Baby Boomers dan Generasi X yang merasa kesulitan dengan perubahan yang cepat berganti dan berkembang.
Strategi dalam Mengelola Tim Multigenerasi
Strategi dalam mengelola tim multigenerasi sangat diperlukan untuk mencapai produktivitas yang efisien dan efektif. Salah satu tantangan utama dalam kepemimpinan adalah menciptakan suasana kerja yang kondusif dan mendukung teamwork atau kerja sama antar anggota tim. Pemimpin yang mampu membangun norma dan menghilangkan budaya individualisme akan lebih berhasil dalam menciptakan tim yang berkinerja tinggi (Alhidayatullah et al., 2024). Strategi yang diperlukan untuk mengelola tim multigenerasi dapat diatasi dengan beberapa cara.
Strategi dapat diterapkan ketika seluruh anggota dalam suatu organisasi sepakat untuk memiliki pemikiran yang terbuka. Setiap generasi memiliki pandangan tersendiri yang menyebabkan pemikiran bahwa generasi mereka adalah generasi terbaik. Contohnya, Baby Boomers dan Generasi X beranggapan bahwa Generasi Milenial dan Generasi Z tidak dapat memenuhi standar kerja yang memadai sehingga, mereka menganggap bahwa Generasi Milenial dan Generasi Z adalah generasi yang lemah dan tidak dapat bekerja sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Oleh karena itu, pemikiran yang terbuka akan sangat mendukung strategi dalam mengelola tim multigenerasi.
Pandangan dan Cara Kerja Multigenerasi
Diawali dengan kesadaran bahwa setiap generasi memiliki pandangan dan cara kerja yang berbeda. Setiap orang dalam suatu organisasi harus menghargai perbedaan tersebut. Sebagai seorang pemimpin harus mengakomodasi kebutuhan kerja yang berbeda dari tiap generasi. Menyediakan akses teknologi yang dapat digunakan oleh seluruh generasi akan membantu suatu tim multigenerasi menyelesaikan pekerjaan dengan produktif dan efisien, ketika ada yang tidak mampu menggunakan teknologi tersebut dapat diberi pelatihan khusus agar semua anggota dalam suatu organisasi dapat bekerja dengan kapasitas yang sama.
Setiap generasi pasti memiliki gaya komunikasi yang berbeda padahal, informasi yang disampaikan harus jelas dan tepat antara pihak yang memiliki kepentingan. Tetapi faktanya, perbedaan gaya komunikasi kerap menjadi masalah dalam penyampaian informasi atau miskomunikasi. Oleh karena itu, salah satu solusi yang dapat diterapkan adalah menggabungkan cara tradisional dengan modern. Contohnya, pada saat diskusi secara langsung atau face to face dapat dilengkapi dengan alat komunikasi digital seperti power point yang dipresentasikan supaya semua generasi, mendapatkan informasi dengan jelas dan tepat.
Keinginan Multigenerasi Belajar Satu Sama Lain
Banyak generasi khususnya Generasi Boomers dan Generasi X yang merasa sudah banyak pengalaman sehingga menutup diri, merasa paling pintar, dan menganggap remeh Generasi muda khususnya Generasi Milenial dan Generasi Z. Sedangkan, Generasi Milenial dan Generasi Z yang sering menganggap generasi tua sudah ketinggalan zaman dan menganggap mereka tidak mengikuti perkembangan teknologi. Padahal, terdapat banyak peluang yang menjadi kesempatan jika setiap generasi mempunyai keinginan untuk belajar satu sama lain jika, mereka mengerti bagaimana cara pandang dan kerja setiap generasi. Sehingga, mereka dapat menggabungkan semua itu menjadi tim yang efektif dan efisien.
Perusahaan dapat mengadakan sesi lintas generasi untuk membuka ruang berdiskusi antar generasi. Dalam diskusi ini, setiap generasi dapat berdiskusi dan memahami cara pandang serta cara kerja masing-masing generasi akan berbeda. Hal ini akan membantu mengurangi miskomunikasi dan menciptakan lingkungan kerja yang lebih nyaman. Dampaknya, setiap tim multigenerasi dapat lebih produktif karena memiliki rasa saling memahami antar perbedaan.
Pemetaan Kompetensi Multigenerasi
Meskipun setiap generasi diharapkan memiliki kinerja dengan kapasitas yang sama tetapi, dibutuhkan pemetaan kompetensi yang sesuai dengan keahlian masing-masing generasi. Generasi Boomers dan Generasi X yang tidak terlalu dekat dengan teknologi dapat disesuaikan sesuai dengan memberi pelatihan teknis mengenai cara kerja suatu teknologi. Generasi Milenial dan Generasi Z yang difokuskan dengan prioritas kerja dan pengembangan karir. Sehingga, setiap tim yang memiliki anggota berbeda generasi tidak menghambat kinerja tetapi meningkatkan produktivitas suatu tim.
Kesimpulan
Perbedaan perspektif dan cara kerja di suatu organisasi yang diakibatkan adanya multigenerasi menjadi suatu tantangan dan peluang yang signifikan bagi suatu organisasi. Perbedaan karakteristik gaya komunikasi, dan cara kerja multi generasi dapat menyebabkan ketegangan dan miskomunikasi. Namun, semua permasalahan tersebut dapat diatasi dengan memahami bahwa setiap generasi memiliki cara kerja dan gaya komunikasi yang berbeda, perusahaan mengadakan sesi lintas generasi seperti pertemuan antar mereka dan memetakan setiap generasi bekerja sesuai keahlian masing-masing. Dengan demikian, organisasi mampu mengelola perbedaan ini dengan baik dan menciptakan lingkungan kerja yang produktif hingga mencapai tujuan jangka panjang yang lebih efektif dan efisien.
DAFTAR PUSTAKA
Supriyanto, Beny Eko. “Tata Kelola Kerja Fleksibel: Strategi untuk Organisasi Multi-Generasi.” Kementerian Keuangan Republik Indonesia, 2 Oktober 2024 https://klc2.kemenkeu.go.id/kms/knowledge/tata-kelola-kerja-fleksibel-strategi-untuk-organisasi-multi-generasi-e470e0d0/detail/.
Yunita, Diana. “Manajemen Strategi: Definisi Para Ahli dan Tugasnya.” Kompas, 8 Juli 2021 https://www.kompas.com/skola/read/2021/07/08/150000569/manajemen-strategi–definisi-para-ahli-dan-tugasnya.
Great Day HR. Perbedaan Karakteristik antara Generasi. Great Day HR, 2023 https://greatdayhr.com/wp-content/uploads/2023/07/eBook_Manajemen-Multigenerasi.pdf.
KarirLab Team. “Kenali 8 Karakteristik Gen Z di Dunia Kerja: Utamakan Kebahagiaan.” KarirLab, 24 Januari 2024 https://karirlab.co/article/success-in-work/kenali-8-karakteristik-gen-z-di-dunia-kerja-utamakan-kebahagiaan.
Khan, Sharma. “Tantangan Bekerja di Lingkungan Multigenerasi.” IDN Times, 5 Oktober 2024 https://www.idntimes.com/life/career/irma-yanti-2/tantangan-bekerja-di-lingkungan-multigenerasi-c1c2.
Madasari, Dewi. “Bagaimana Mengelola Tim Multigenerasi: Baca Strategi Ini.” AxDIF, 26 Januari 2024 https://www.axdif.com/blog/general/bagaimana-mengelola-tim-multigenerasi-baca-strategi-ini.
Admin GeekGarden. “Strategi Manajemen Aset.” Geek Garden, 28 November 2024 https://geekgarden.id/insight/strategi-manajemen-aset/#elementor-toc__heading-anchor-4.
Saleh, M., Insani, S. M., Putra, E. L. H., Feriyanto, & Lestari, T. (4 September 2024). Strategi kepemimpinan efektif untuk meningkatkan kinerja tim. Jurnal Ilmu Manajemen Retail (JIMAT, Vol. 5, No.2). https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&opi=89978449&url=https://jurnal.ummi.ac.id/index.php/jimat/article/download/2995/1259/8717&ved=2ahUKEwjr9PHUvIqKAxU_zDgGHRfFNNQQFnoECA0QAQ&usg=AOvVaw0-4VR6_SnXcB1q-lE2V00R
PENULIS
Perkenalkan, nama saya Felicia Grace Sulaeman, saya seorang mahasiswa Universitas Katolik Parahyangan Bandung Fakultas Ekonomi Jurusan Manajemen sebagai mahasiswa angkatan 2024. 








