Media Parahyangan – Pada hari Sabtu, (12/04) lalu Bandung Bergerak bersama Warga Dago Elos mengadakan Festival Bandung Menggugat di Dago Elos. Festival ini berusaha menyuarakan isu penindasan yang kerap terjadi Indonesia khususnya di Bandung.
Festival Bandung Menggugat sendiri diisi dengan beberapa agenda-agenda yang sangat menarik seperti Diskusi, Orasi, Pojok Bersuara, dan Pesta Rakyat. Acaral ini juga turut menghadirkan grup band yang sedang ramai di kalangan masyarakat belakangan ini, yaitu Sukatani. kehadirannya berhasil menarik antusiasme pengunjung yang terpantau memenuhi Dago Elos.
Tim Media Parahyangan juga berkesempatan mewawancari beberapa pengunjung yang hadir dalam festival bandung menggugat kali ini. Shiddiq, seorang mahasiswa yang hadir mengatakan bahwa ia mengetahui acara ini melalui laman media sosial Bandung Bergerak. Ia tertarik karena adanya diskusi dan berbagai orasi yang menarik.
“Alasan utama aku dateng itu karena ada acara diskusi dan orasi yang menarik dan mengundang beberapa pembicara kompeten di bidangnya, seperti Zen RS dan Virdinda La Ode,” ujar Shiddiq.
Shiddiq yang tertarik dengan pemaparan para pembicara juga mengutip pemaparan dari Zen RS yang mengomentari perihal aktivisme di Indonesia.
“…di samping itu, ia pun (Zen RS) mengomentari aktivisme Indonesia yang terlalu menuntut seorang ‘tokoh’ untuk memiliki standar tinggi; seluruh persoalan dibuat seolah-olah menjadi masalah moral. Padahal, dalam suatu pergerakan, perlu ada aliansi strategis, taktis, dan ideologis,” ujar Shiddiq menjelaskan materi yang dibawakan oleh Zen RS.
Tim Media Parahyangan juga sempat mewawancarai AKL seorang mahasiswa yang merasa membutuhkan ruang bebas untuk berekspresi. AKL mengatakan bahwa di Bandung sendiri sudah mulai sulit untuk menemukan acara atau ruang yang bebas untuk mengutarakan ekspresi atau pendapat.
“…Festival Bandung Menggugat merupakan ruang terbuka bebas untuk berekspresi yang menurutnya sudah sangat sedikit di zaman ini dan alasan lainnya sebelum dilarang Bandung,” ujar AKL seorang mahasiswa yang enggan menyebutkan namanya.
AKL juga menambahkan bahwa masyarakat perlu untuk membawa semangat nafas perjuangan untuk menyuarakan isu-isu yang menentang hak masyarakat.
“…pokoknya mahh nafas perjuangan harus tetep panjang karena perjuangan tidak akan pernah berakhir,” ujar AKL.
Penulis: Muhammad Omar Al Kautsar
Editor: Jasson Aditya Sudrajat








