Media Parahyangan
Advertisement
  • Home
  • Berita
    • Bandung
    • Nasional
    • Liputan Kampus
    • Editorial
  • Sesi Kajian Khusus
    • Understanding Issues
  • Kolom Parahyangan
    • Opini
    • Esai
    • Interview
    • Podcast
  • Culture
    • Musik
    • Seni
    • Buku
    • Lifestyle
  • Galeri
  • Majalah
  • Arsip
  • Tentang Kami
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Bandung
    • Nasional
    • Liputan Kampus
    • Editorial
  • Sesi Kajian Khusus
    • Understanding Issues
  • Kolom Parahyangan
    • Opini
    • Esai
    • Interview
    • Podcast
  • Culture
    • Musik
    • Seni
    • Buku
    • Lifestyle
  • Galeri
  • Majalah
  • Arsip
  • Tentang Kami
No Result
View All Result
Media Parahyangan
No Result
View All Result
Home Bandung

Catatan Pendek Aksi Indonesia Gelap

Media Parahyangan by Media Parahyangan
19 May 2025
in Bandung, feature, Liputan Kampus
Catatan Pendek Aksi Indonesia Gelap

Media Parahyangan – Guyuran hujan tidak meredam riuh amarah suara perlawanan mojang dan jajaka di Kota Priangan. Amarah yang tercipta dari ketidakpastian situasi negara akibat kebijakan anti-rakyat yang dilahirkan oleh pemerintah mematik kobaran api di berbagai kota.

Aliansi Mahasiswa Parahyangan melakukan aksi demonstrasi Indonesia Gelap di gedung DPRD Jawa Barat, Jumat (21/02). Dalam aksinya, mahasiswa mengajukan tigabelas tuntutan mulai dari;

  1. Mengkaji ulang pemangkasan anggaran
  2. Evaluasi program makan bergizi gratis
  3. Menghapus multifungsi ABRI
  4. Reformasi kabinet gemuk
  5. Sahkan Rancangan Undang-Undang Masyarakat Adat
  6. Keluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Perampasan Aset
  7. Realisasikan Tunjangan Kinerja Dosen ASN
  8. Tolak Revisi Undang-Undang Mineral Dan Batubara
  9. Cabut Proyek Strategis Nasional Bermasalah
  10. Cabut Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025
  11. Reformasi Polri
  12. Wujudkan pendidikan gratis dan batalkan pemangkasan anggaran pendidikan]
  13. Tolak penambahan pasal 228A dalam revisi tata tertib DPR RI

hingga seruan menolak cawe-cawe mantan presiden, Jokowi di pemerintahan Prabowo. Aksi Indonesia Gelap digelar atas dasar gagalnya pemerintahan prabowo dan gibran hingga pemangkasan anggaran, terutama anggaran pendidikan dan kesehatan demi menjalankan program makan bergizi gratis. 

Terik matahari yang menyengat kulit tak menghalangi mahasiswa Universitas Katolik Parahyangan untuk mengikuti aksi Indonesia Gelap. Pukul 14.52 waktu setempat, massa aksi menggelar long march dari titik kumpul menuju titik aksi. Sembari berjalan kaki, mereka melantunkan lagu Ibu Pertiwi bersamaan dengan dibentangnya spanduk, diangkatnya poster, dan dikibarkanya bendera hitam simbol indonesia masih kelam yang tertiup oleh angin. Kedatangan kami di gedung DPRD disambut pasukan berseragam kesayangan kapitalis perampok tanah-tanah rakyat yang rupanya ditugaskan untuk menjaga gedung tersebut. 

Menjadi aliansi mahasiswa parahyangan yang pertama tiba, salah satu Mahasiswa UNPAR melakukan orasi sebagai pemantik semangat api perjuangan mahasiswa sembari menunggu aliansi mahasiswa lainnya bergabung di lokasi aksi. Aksi kali ini terdapat momen yang cukup menarik perhatian, seorang mahasiswi tengah membaca buku Pramoedya Ananta Toer yang berjudul “Perempuan Remaja dalam Cengkraman Militer”. Saat ditanya alasannya mengapa ia membaca di tengah-tengah aksi, sang puan berkata bahwa membaca adalah salah satu bentuk perlawanan terhadap rezim pemerintahan saat ini.

Pukul 15.44 waktu setempat, aliansi mahasiswa lainnya akhirnya tiba. Orator silih berganti menyuarakan amarah mereka terhadap keadaan indonesia yang carut marut. Hingga tiba giliran Grice Ine, mahasiswi Administrasi Publik Universitas Katolik Parahyangan, satu-satunya orator perempuan pada aksi hari ini. Suara sang puan terdengar lantang menyerukan suara hatinya kepada pemerintah yang mengesampingkan hak-hak rakyat indonesia demi kepentingan pribadi, “Sumber daya di negeri kita dikeruk bukan untuk kemakmuran rakyat, pendidikan dan kesehatan yang dikesampingkan. Sekarang pendidikan hanya untuk hak segelintir orang sedangkan yang lain terdampar di pinggir jalan. Kita tidak mau Indonesia diselimuti kegelapan. Jangan takut kawan-kawan, kita lawan sampai menang! Pemerintah bajingan!” Ujarnya dengan lantang. 

Grice Ine, dalam wawancaranya dengan Media Parahyangan menyampaikan pandangannya terhadap keadaan Indonesia Gelap ini, bahwasannya dalam formulasi kebijakan, yakni tahapan koordinasi atau penggodokan pejabat-pejabat pembuat kebijakan adalah hal yang krusial. Sejak awal tahun 2025, wacana pemerintah yakni PPN 12%, kasus pagar laut, hingga efisiensi pendidikan menunjukkan tata kelola pemerintahan yang kacau dan buruk. Ketika sang puan ditanya apa yang ia perjuangkan melalui demonstrasi ini, ia dengan tegas berujar, 

“Memperjuangkan hak-hak rakyat Indonesia. Sekarang pemerintah ingin membungkam rakyatnya, sekarang pemerintah tidak peduli dengan apa yang ingin masyarakat mau, kita sebagai masyarakat tidak perlu drama-drama politik tapi perlu kebijakan yang dipertanggung jawabkan,”. 

Memperjuangkan hak-hak rakyat Indonesia tidaklah mudah. Sambil tersenyum, mahasiswi Administrasi Publik ini mengakui adanya hambatan dalam mempersiapkan aksi indonesia gelap. Mulai dari masalah perizinan dan menunggu kesigapan rekan-rekan mahasiswa untuk berjuang dan bersuara bersama. Tetapi, hambatan-hambatan tersebut tidak melunturkan semangat perjuangannya.

Aksi ditutup dengan air mata ibu pertiwi mengguyur basah massa aksi, yang tengah memperjuangkan hak-hak rakyat indonesia. Rinai hujan disertai lantunan lagu ibu pertiwi dan halo-halo bandung menghiasi kepulangan mereka. Meskipun hingga aksi rampung tiada satupun perwakilan DPRD yang mau menemui massa aksi, perjuangan tidak berakhir di hari ini. Tongkat estafet perjuangan masih tergenggam dan akan terus digenggam hingga akhir perjuangan tiba. Demonstran menolak duduk diam dan menutup mulut dikala tikus-tikus bertopeng garuda tengah menindas kekuasaan tertinggi negeri ini, yakni rakyat. Mereka memilih ikut turun berjuang dimanapun dan tak hanya di jalanan saja. Sekalipun neraka terguling dan apinya tergelincir hingga ke dunia, lalu membakar jejak-jejak perjuangan, mereka tetap menolak menyerahkan negerinya kepada para bedebah itu. 

Atas nama kemanusiaan, 

Hidup perjuangan. 

Penulis: A. A. Triana Pratiwi
Editor: Galih R. Wiratama

Previous Post

Bandung Lautan Biru: Persib Juara Liga 1, Jalanan Kota Bandung Macet Parah!

Next Post

Wawancara Eksklusif Dosen FH Tentang Danantara Indonesia: Antara Janji dan Ancaman

Post Terkait

Sempat Hilang setelah memperingati Supersemar, BEM akhirnya meminta maaf
Liputan Kampus

Sempat Hilang setelah memperingati Supersemar, BEM akhirnya meminta maaf

28 March 2026
Sempat Memperingati Supersemar, BEM UNPAR Tarik Kembali Unggahan Mereka
Liputan Kampus

Sempat Memperingati Supersemar, BEM UNPAR Tarik Kembali Unggahan Mereka

20 March 2026
Kilas Balik Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan di Unpar
Liputan Kampus

Kilas Balik Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan di Unpar

27 February 2026
Menolak Lupa: Very Kurnia, Korban Salah Tangkap Demo Augustus Lalu
Bandung

Menolak Lupa: Very Kurnia, Korban Salah Tangkap Demo Augustus Lalu

29 January 2026
HIGH WITH YOUR OWN ID CARD
Bandung

HIGH WITH YOUR OWN ID CARD

15 December 2025
Pemilihan Umum Persatuan Mahasiswa: Mahasiswa yang Mana?
Liputan Kampus

Pemilihan Umum Persatuan Mahasiswa: Mahasiswa yang Mana?

27 November 2025
Next Post
Wawancara Eksklusif Dosen FH Tentang Danantara Indonesia: Antara Janji dan Ancaman

Wawancara Eksklusif Dosen FH Tentang Danantara Indonesia: Antara Janji dan Ancaman

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru

  • Muncul Surat Ancaman Bom Pada Wisuda Tahap II, BEM Unpar Sebarkan Pesan Darurat

    Muncul Surat Ancaman Bom Pada Wisuda Tahap II, BEM Unpar Sebarkan Pesan Darurat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • #TidakSIAP2024: Makan Siang Peserta SIAP Tidak Layak Konsumsi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berulah Menjelang Turun Jabatan, Ketua BEM Unpar Minta Maaf

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sempat Memperingati Supersemar, BEM UNPAR Tarik Kembali Unggahan Mereka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • “Ketidakstabilan Ekonomi Menciptakan Pelecehan Hak Asasi Manusia Etnis Tionghoa”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kencangkan Sabuk Pengaman, Per Semester Ganjil 2025/2026 UKT Tahap Satu Naik!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kantin Unpar Sudah Buka, Mahasiswa: Banyak Alternatif yang Lebih Murah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • “Kesenjangan Gender di Era Modern: Menghadapi Sistem yang  Menyudutkan Perempuan” 

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Follow Our Social Media
Spotify Instagram Youtube

Informasi

  • Tentang Kami
  • Pertanyaan Umum (FaQ)
  • Guideline Kolom Submisi
  • Pendaftaran Anggota Jurnalis MedPar

Kontak

  • Email Kolom Submisi : kompendiumprodukmp@gmail.com
  • Email Media Partner : ukm_mp@unpar.ac.id

Alamat

Jl. Ciumbuleuit No.94, Hegarmanah, Kec. Cidadap, Kota Bandung, Jawa Barat 40141

Copyright © 2023 Media Parahyangan

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Bandung
    • Nasional
    • Liputan Kampus
    • Editorial
  • Sesi Kajian Khusus
    • Understanding Issues
  • Kolom Parahyangan
    • Opini
    • Esai
    • Interview
    • Podcast
  • Culture
    • Musik
    • Seni
    • Buku
    • Lifestyle
  • Galeri
  • Majalah
  • Arsip
  • Tentang Kami

© 2024 Media Parahyangan

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist