Media Parahyangan – Guyuran hujan tidak meredam riuh amarah suara perlawanan mojang dan jajaka di Kota Priangan. Amarah yang tercipta dari ketidakpastian situasi negara akibat kebijakan anti-rakyat yang dilahirkan oleh pemerintah mematik kobaran api di berbagai kota.
Aliansi Mahasiswa Parahyangan melakukan aksi demonstrasi Indonesia Gelap di gedung DPRD Jawa Barat, Jumat (21/02). Dalam aksinya, mahasiswa mengajukan tigabelas tuntutan mulai dari;
- Mengkaji ulang pemangkasan anggaran
- Evaluasi program makan bergizi gratis
- Menghapus multifungsi ABRI
- Reformasi kabinet gemuk
- Sahkan Rancangan Undang-Undang Masyarakat Adat
- Keluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Perampasan Aset
- Realisasikan Tunjangan Kinerja Dosen ASN
- Tolak Revisi Undang-Undang Mineral Dan Batubara
- Cabut Proyek Strategis Nasional Bermasalah
- Cabut Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025
- Reformasi Polri
- Wujudkan pendidikan gratis dan batalkan pemangkasan anggaran pendidikan]
- Tolak penambahan pasal 228A dalam revisi tata tertib DPR RI

hingga seruan menolak cawe-cawe mantan presiden, Jokowi di pemerintahan Prabowo. Aksi Indonesia Gelap digelar atas dasar gagalnya pemerintahan prabowo dan gibran hingga pemangkasan anggaran, terutama anggaran pendidikan dan kesehatan demi menjalankan program makan bergizi gratis.
Terik matahari yang menyengat kulit tak menghalangi mahasiswa Universitas Katolik Parahyangan untuk mengikuti aksi Indonesia Gelap. Pukul 14.52 waktu setempat, massa aksi menggelar long march dari titik kumpul menuju titik aksi. Sembari berjalan kaki, mereka melantunkan lagu Ibu Pertiwi bersamaan dengan dibentangnya spanduk, diangkatnya poster, dan dikibarkanya bendera hitam simbol indonesia masih kelam yang tertiup oleh angin. Kedatangan kami di gedung DPRD disambut pasukan berseragam kesayangan kapitalis perampok tanah-tanah rakyat yang rupanya ditugaskan untuk menjaga gedung tersebut.

Menjadi aliansi mahasiswa parahyangan yang pertama tiba, salah satu Mahasiswa UNPAR melakukan orasi sebagai pemantik semangat api perjuangan mahasiswa sembari menunggu aliansi mahasiswa lainnya bergabung di lokasi aksi. Aksi kali ini terdapat momen yang cukup menarik perhatian, seorang mahasiswi tengah membaca buku Pramoedya Ananta Toer yang berjudul “Perempuan Remaja dalam Cengkraman Militer”. Saat ditanya alasannya mengapa ia membaca di tengah-tengah aksi, sang puan berkata bahwa membaca adalah salah satu bentuk perlawanan terhadap rezim pemerintahan saat ini.
Pukul 15.44 waktu setempat, aliansi mahasiswa lainnya akhirnya tiba. Orator silih berganti menyuarakan amarah mereka terhadap keadaan indonesia yang carut marut. Hingga tiba giliran Grice Ine, mahasiswi Administrasi Publik Universitas Katolik Parahyangan, satu-satunya orator perempuan pada aksi hari ini. Suara sang puan terdengar lantang menyerukan suara hatinya kepada pemerintah yang mengesampingkan hak-hak rakyat indonesia demi kepentingan pribadi, “Sumber daya di negeri kita dikeruk bukan untuk kemakmuran rakyat, pendidikan dan kesehatan yang dikesampingkan. Sekarang pendidikan hanya untuk hak segelintir orang sedangkan yang lain terdampar di pinggir jalan. Kita tidak mau Indonesia diselimuti kegelapan. Jangan takut kawan-kawan, kita lawan sampai menang! Pemerintah bajingan!” Ujarnya dengan lantang.
Grice Ine, dalam wawancaranya dengan Media Parahyangan menyampaikan pandangannya terhadap keadaan Indonesia Gelap ini, bahwasannya dalam formulasi kebijakan, yakni tahapan koordinasi atau penggodokan pejabat-pejabat pembuat kebijakan adalah hal yang krusial. Sejak awal tahun 2025, wacana pemerintah yakni PPN 12%, kasus pagar laut, hingga efisiensi pendidikan menunjukkan tata kelola pemerintahan yang kacau dan buruk. Ketika sang puan ditanya apa yang ia perjuangkan melalui demonstrasi ini, ia dengan tegas berujar,
“Memperjuangkan hak-hak rakyat Indonesia. Sekarang pemerintah ingin membungkam rakyatnya, sekarang pemerintah tidak peduli dengan apa yang ingin masyarakat mau, kita sebagai masyarakat tidak perlu drama-drama politik tapi perlu kebijakan yang dipertanggung jawabkan,”.
Memperjuangkan hak-hak rakyat Indonesia tidaklah mudah. Sambil tersenyum, mahasiswi Administrasi Publik ini mengakui adanya hambatan dalam mempersiapkan aksi indonesia gelap. Mulai dari masalah perizinan dan menunggu kesigapan rekan-rekan mahasiswa untuk berjuang dan bersuara bersama. Tetapi, hambatan-hambatan tersebut tidak melunturkan semangat perjuangannya.
Aksi ditutup dengan air mata ibu pertiwi mengguyur basah massa aksi, yang tengah memperjuangkan hak-hak rakyat indonesia. Rinai hujan disertai lantunan lagu ibu pertiwi dan halo-halo bandung menghiasi kepulangan mereka. Meskipun hingga aksi rampung tiada satupun perwakilan DPRD yang mau menemui massa aksi, perjuangan tidak berakhir di hari ini. Tongkat estafet perjuangan masih tergenggam dan akan terus digenggam hingga akhir perjuangan tiba. Demonstran menolak duduk diam dan menutup mulut dikala tikus-tikus bertopeng garuda tengah menindas kekuasaan tertinggi negeri ini, yakni rakyat. Mereka memilih ikut turun berjuang dimanapun dan tak hanya di jalanan saja. Sekalipun neraka terguling dan apinya tergelincir hingga ke dunia, lalu membakar jejak-jejak perjuangan, mereka tetap menolak menyerahkan negerinya kepada para bedebah itu.
Atas nama kemanusiaan,
Hidup perjuangan.
Penulis: A. A. Triana Pratiwi
Editor: Galih R. Wiratama








