Media Parahyangan – “Preferential option for the poor” Nilai ini mengakar dari sejarah Gereja yang berpihak pada kaum tertindas. Namun, di tengah realitas kampus kini, apakah semangat itu masih hidup atau mulai tersisih?
Sebelumnya kita perlu ketahui benih dari slogan ini, benih dari slogan tersebut bisa ditemui dari Konsili Vatikan II. Konsili Vatikan II secara signifikan menggeser Katolisisme dari Gereja yang tertutup menjadi Gereja yang terbuka, salah satu gagasan penting yang dibawa dalam konsili ini adalah Gaudium et spes, yang mempromosikan hubungan Gereja Katolik dengan dunia modern, dan juga menekankan bagaimana Gereja harus bertindak terhadap ketidaksetaraan dalam kondisi sosio-ekonomi. Dengan lahirnya gagasan-gagasan baru dari Konsili Vatikan II, sebuah gerakan baru juga lahir dari keluh kesah kaum miskin, kaum tertindas, karena mengetahui bahwa pada masanya, Gereja Katolik seringkali berpihak pada kaum elit, kelas penguasa, dan kaum kaya. Menyadari isi dari Alkitab itu sendiri dan bagaimana Alkitab sebenarnya berpihak pada mereka yang tertindas seperti yang dikatakan oleh Gustav Gutierrez, Bapak Teologi Pembebasan “Allah Keluaran adalah Allah sejarah dan pembebasan politik lebih dari Allah alam ( The God of Exodus is the God of history and of political liberation more than he is the God of nature) “. Mereka mengadakan konferensi di Amerika Latin pada tahun 1968 yang menjadi titik balik bagi gagasan Teologi Pembebasan yang melahirkan ide ‘pilihan istimewa bagi orang miskin’ dan pembentukan Comunidades Eclesiales de Base, sebuah kelompok di mana umat Katolik berkumpul untuk mendiskusikan isu-isu politik dan ekonomi serta melibatkan diri mereka dalam gerakan-gerakan keadilan sosial.
Dengan adanya ketidakadilan politik yang sudah sangat dikenal di dalam masyarakat ini, gagasan ini seharusnya dapat membebaskan masyarakat, tetapi kenyataannya tidak demikian. Teologi Pembebasan adalah salah satu gagasan yang paling kontroversial dalam Gereja Katolik karena hubungannya dengan Marxisme, mengutip pernyataan Paus Benediktus XVI dalam Kongregasi Ajaran Iman (CDF), “Teologi pembebasan tidak dapat diterima ketika menerima secara tidak kritis ideologi Marxisme, perjuangan kelas, dan interpretasi materialis atas sejarah”.
Menurut buku sindu, slogan ini berfokus pada keberpihakan Unpar pada kaum miskin dan tersisih. Unpar mengutamakan pelayanan kepada kelompok marjinal, termasuk kelompok orang miskin. Dalam buku Sindu tertulis bahwa Unpar melaksanakan slogan ini melalui membuka kesempatan kepada mereka yang membutuhkan pendidikan tetapi tidak mampu secara ekonomi.
Sesuai dengan slogan tersebut, Unpar mengaktualisasi nilai tersebut melalui pemberian beasiswa, contohnya beasiswa bantuan keuangan, sampai beasiswa daerah tertinggal. Ada juga pembagian makan gratis yang dilakukan oleh alumni melalui Ramah Food Collective. Selain dari beasiswa dan makan gratis, ada juga program-program yang dilakukan oleh mahasiswa seperti pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Dari mulai program beasiswa yang dilakukan oleh kampus sampai kegiatan mahasiswa, aktualisasi slogan preferential option for the poor membuktikan bahwa semua warga kampus memiliki kewajiban untuk menjalani semangat tersebut.
Namun terlepas dari beasiswa hingga pengabdian masyarakat, kita masih bisa melihat kesan bahwa Unpar sebagai universitas hadir bagi mereka yang mampu saja. Hal ini tercermin melalui kenaikan UKT yang terjadi secara tiba-tiba beberapa waktu yang lalu. Bahkan jika kita berdiskusi dengan teman-teman dari kampus lain atau mungkin kakak-kakak tingkat kita, jika mendengar kata Unpar pandangan umum berkata Unpar: Universitas Party dan kesan lain bahwa yang berkuliah di kampus ini hanya orang mampu saja. Secara tidak langsung kesan atas kampus kita ini lekat dengan orang-orang mampu dan borjuis saja padahal pemikiran Preferential option for the poor yang menjadi nilai dasar etis Unpar dapat hadir di sini melalui perjuangan yang tidak ringan, bahkan sampai dianggap kontroversial. Maka, dengan kenaikan UKT dan kesan yang dimiliki Unpar ini apakah menjadi bagian dari kampus kita yang menyisihkan slogan preferential option for the poor? Bagaimana tanggapan kawan kampus?
Penulis: Alicia Vania Elroy
Editor: Jasson Aditya Sudrajat







