Lagu dengan konten putus cinta dan segala macam patah hati selalu diminati oleh pendengar musik khususnya di Indonesia. Tidak sedikit lagu-lagu dengan lirik patah hati menjadi hits di beberapa platform musik. Namun, demi mendongkrak popularitas, lagu-lagu bertema kesedihan kerap digunakan untuk meromantisasi masalah hidup secara berlebihan. Hal ini menciptakan persepsi bahwa kesedihan adalah sesuatu yang indah, bahkan layak dipelihara keberadaannya. Analisis Katadata menunjukkan bahwa rata-rata valensi (indikator yang menunjukkan seberapa positif atau cerianya sebuah lagu) lagu terpopuler di Spotify Indonesia hanya 0,38%. Indikator ini menunjukkan bahwa tingkat positivitas lagu-lagu terpopuler di Indonesia lebih rendah dibandingkan dengan negara lain yang memiliki referensi musik yang lebih beragam, namun lebih seimbang dalam hal emosional. Hal ini dapat dilihat menjadi sebuah fakta yang menunjukkan bahwa tingkat permintaan masyarakat Indonesia terhadap lagu-lagu dengan tema kesedihan lebih tinggi. Fenomena ini dapat menjadi lahan yang baik bagi para pencipta lagu untuk menghasilkan keuntungan.Namun di sisi lain, terdapat dampak emosional negatif yang terjadi pada para pendengarnya. Dominasi musik bertema patah hati di industri musik Indonesia berdampak buruk pada kecerdasan emosional pendengar dengan mendorong pola pikir pesimis, menurunkan produktivitas, dan menyodorkan realitas yang dangkal.
Konsumsi berlebihan terhadap musik dengan tema sedih dalam jangka panjang terbukti dapat menurunkan kemampuan individu untuk berpikir positif dan menghambat pemulihan emosional. Studi eksperimental oleh Garrido & Schubert dengan judul Moody melodies: Do they cheer us up? A study of the effect of sad music on mood menunjukkan bahwa mendengarkan self-selected sad music menaikkan tingkat depresi baik pada individu yang mudah meruminasi maupun yang tidak, menunjukkan bahwa musik sedih bisa menjadi strategi regulasi emosi yang maladaptif.. Para pendengar musik sedih cenderung mendramatisir masalah hidup yang banyak dirasakan oleh masyarakat pada umumnya menjadi sebuah sesuatu hal yang besar dan berat untuk dihadapi. Menurut sebuah arikel yang ditulis oleh Sai Charan Kanagala, Thomas Chäfer, David M. Greenberg dan Anna Gabińska dengan judul “Depression Symptoms are Linked to Music Use”, lagu-lagu dengan lirik yang tidak jauh dari putus cinta, sentimentalitas dan melodi mendayu-dayu kerap kali menyediakan pandangan yang terkesan menyederhanakan persoalan kompleks menjadi pengalaman emosional yang dangkal, memperbesar masalah-masalah sederhana menjadi inti pengalaman emosional tanpa menawarkan pemahaman mendalam atau solusi praktis; pada kelompok rentan (remaja yang sedang sedih atau orang dengan kecenderungan ruminasi), paparan jenis musik ini bahkan dapat memperburuk suasana hati.
Selain itu, menurut sebuah tesis yang ditulis oleh Beàta Majtanovà dengan judul “Depression in Popular Music”, menunjukkan bagaimana lirik yang estetis dengan romantisasi kesedihan membuat emosi negatif tampak “indah” dan bernilai estetik — suatu wacana yang mendorong pendengar untuk berlama-lama dalam kesedihan alih-alih beralih ke proses penyembuhan dan refleksi rasional. Hal ini pada akhirnya dapat mengurangi kemampuan refleksi yang sehat, karena pendengar lebih fokus pada perasaan sementara daripada menganalisis akar masalah secara rasional dan membangun pola pikir yang lebih konstruktif. Dalam lagu-lagu tersebut, kesedihan akibat permasalahan romansa seperti putus cinta, digambarkan dengan cara yang begitu mendayu-dayu, seolah perasaan tersebut adalah hal yang wajar untuk dipertahankan. Hal ini dapat mendorong pendengar untuk terus hanyut dalam kesedihan. Sedangkan yang dibutuhkan oleh mereka adalah penyembuhan dan pertumbuhan emosional mereka.
Hal tersebut didukung oleh sebuah studi yang ditulis oleh Nathan Pond dan David Leavens dengan judul “Comparing effects of sad melody versus sad lyrics on mood” menemukan bahwa lirik agresif atau negatif dapat meningkatkan perasaan permusuhan (hostility) dan afek negatif dalam diri pendengar—terlepas dari nada musiknya. Ini menunjukkan bahwa konten lirik memiliki pengaruh emosional yang nyata dan berdampak lebih dari melodi semata. Kurangnya variasi tema dalam musik populer juga dapat membatasi pengembangan kecerdasan emosional, karena pendengar tidak terdorong untuk mengeksplorasi spektrum emosi yang lebih luas, dan meningkatkan kecenderungan pendengar untuk menggunakan musik sebagai cara memvalidasi emosi negatif dan menciptakan siklus umpan balik untuk memperkuat emosi tersebut. Aspek ini dapat dipelajari lebih lanjut lewat tulisan Eric Debrah dan Otchere dengan judul “Music and emotion: A study of the relationship between musical preference and emotional intelligence”.
Selain itu, musik dengan tema patah hati yang memiliki lirik emosional dan melodi yang lambat memiliki dampak negatif terhadap produktivitas pendengar, terutama dalam tugas yang membutuhkan konsentrasi yang tinggi. Melodi yang mendayu-dayu cenderung mendorong pendengar untuk terhanyut dalam suasana sendu yang diciptakan oleh lagu tersebut. Lirik yang emosional dan cenderung “kekanak- kanakan” juga dapat memicu efek nostalgia pada pendengar lewat kata-kata yang “relatable” bagi pendengar. Hal tersebut didukung oleh penelitian dari Cambridge Sound Management yang menunjukkan bahwa musik dengan lirik negatif dapat mengganggu fokus dan menurunkan produktivitas, terutama pada pekerjaan yang melibatkan penulisan atau analisis data. Selain itu, mereka juga menemukan bahwa musik dengan tempo lambat dan emosi tinggi dapat mempengaruhi suasana hati dan membuat individu cenderung menunda tugas karena terjebak dalam suasana emosional yang diciptakan oleh musik tersebut.
Berdasarkan studi dan penelitian tentang pembahasan musik patah hati dan dampak yang ditimbulkannya di atas, dapat disimpulkan bahwa dominasi lagu-lagu bertema patah hati yang populer khususnya di Indonesia memiliki dampak negatif terhadap produktivitas pendengarnya. Selain itu pengelolaan emosional yang pesimistis dan pola pikir yang cenderung melebih-lebihkan sebuah masalah yang sedang dihadapi menjadi penyebab dalam menghambat penyelesaian masalah secara konstruktif. Maka, untuk memupuk kembali pola pikir yang positif, serta mendorong keseimbangan antara ekspresi sekaligus produktivitas masyarakat yang terhambat dari dampak musik dan lagu-lagu patah hati, industri musik khususnya di Indonesia perlu mengedepankan keberagaman tema dalam lagu-lagu yang diproduksi dan dipromosikan. Sehingga pendengar dapat mengeksplorasi spektrum emosi yang lebih luas, dan tidak terus terkurung dalam perasaan sedih yang didramatisasi secara berlebihan dan merugikan dirinya sendiri.
Penulis: Gregorius Ramones Evanraffael
Editor: Jasson Aditya Sudrajat








