Media Parahyangan – Pada hari Sabtu, (17/05) dalam upaya menghidupkan kembali semangat seni di kalangan mahasiswa, Unit Kegitatan Mahasiswa Sastra dan Teater UNPAR (Satre) menggelar sebuah acara pertujukan kolaboratif yang memadukan puisi, drama, dan musik.
Menggangkat tema Toni Tercinta, Kisah Cinta & Lain-Lain karya Arifin C. Noer, acara tersebut menyuguhkan rangkaian pertunjukan yang memadukan narasi personal, puisi, dan drama untuk merayakan berbagai wajah cinta yang manis, getir, absurd, dan kadang tak terjelaskan. Lebih dari sekadar pertunjukan, “Toni Tercinta” menjadi ruang ekspresi sekaligus pengakuan akan kerentanan dan kekuatan manusia dalam mencinta.
Tim Media Parahyangan juga berkesempatan mewawancari salah satu pemeran dari acara satre kali ini. Ariel Paras, berperan sebagai Otong memberikan alasannya mengapa ia berpartisipasi dalam acara satre kali ini. Ia tertarik karena menambah pengalaman serta ingin mengetahui bagaimana dunia teater itu.
“Karena buat pengalaman sama pengen nyobain bagaimana dunia teater itu,” ujar Ariel.
Ariel memberikan pendapatnya tentang bagaimana kita dapat memaknai acara Satre kali ini dan ia juga berkeluh kesah tentang perjuangannya untuk menyukseskan acara Satre kali ini.
“Kurang lebih maknanya berceritakan tentang orang-orang atas yang tidak mempedulikan orang-orang bawah karena orang bawah sibuk dengan hidupnya dan orang atas sibuk dengan anjingnya. Wahh banyak sih kesulitannya sebenernya karena berperan sebagai orang lain itu susah sih sekitar 4 bulan latihannya,” ujar Ariel Paras.
Tim Media Parahyangan juga berkesempatan untuk mewawancarai Kemal Ferdiansyah, pelatih UKM Satre sekaligus sutradara pada pementasan kali ini. Dalam wawancara tersebut, Kemal menyoroti ketimpangan empati dalam masyarakat, terutama ketika kematian seorang anak dari kelas bawah dianggap tidak sepenting kematian seekor anjing peliharaan milik pasangan kelas atas. Ia mengajak penonton untuk merenungkan bagaimana cinta dan perhatian yang berlebihan terhadap sesuatu secara berlebihan justru mengaburkan kepedulian serta kepekaan empati terhadap sesama manusia.
“Kita patut memperhatikan bagian akhir kisah tersebut sebagai bahan perenungan. Sebagai contoh, banyak manusia yang mencintai binatang atau benda secara berlebihan, hingga melupakan bahwa di sisi lain masih banyak sesama manusia yang lebih membutuhkan perhatian atau cinta tersebut—namun justru diabaikan,” ujar Kemal selaku sutradara.
Lebih jauh, Kang Kemal juga membagikan pendekatannya dalam menyutradarai pementasan ini, yaitu dengan mengarah ke gaya teater konvensional yang diberi sedikit sentuhan interpretatif oleh dirinya dan tim Satre. Pementasan ini tetap berangkat dari naskah asli karya Arifin C. Noer, namun juga dilengkapi dengan beberapa penambahan adegan hasil interpretasi yang tidak terdapat dalam naskah asli. Salah satu contohnya adalah bagian akhir pementasan, di mana para lakon menggonggong—adegan yang tidak ada dalam teks asli, tetapi ditambahkan sebagai simbolisasi tanpa menghilangkan nyawa dan narasi atau statement cerita. Penambahan ini tidak bersifat eksperimental berlebihan, melainkan tetap menjaga nyawa dan makna utama dari kisah yang disampaikan.
Penulis: Gregorius Ramones Evanraffael
Reporter: Dedes Sughiarti dan Muhammad Omar Al Kautsar
Editor: Galih R. wiratama








