Jakarta, 25 Februari 2025 – Kejaksaan Agung menyatakan dugaan korupsi dalam distribusi bahan bakar dengan modus pengoplosan bensin RON 90 menjadi RON 92. Kasus ini menyebabkan negara rugi sebesar Rp.193,7 Triliun dan sembilan tersangka telah ditetapkan, sementara penyelidikan terus berlanjut.
“BBM berjenis RON 90 (Pertalite), kemudian dioplos, dicampur, tetapi dibayar seharga RON 92 (Pertamax)”, kata Direktur Penyidikan pada Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus), Jakarta, Selasa (25/1/2025).
Dari sembilan tersangka, Riva Siahaan, selaku Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga terduga melakukan manipulasi produk dengan membeli dan mencampurkan RON 90 dengan RON 92. Hal ini membuat keuntungan ilegal bagi Pertamina dengan menjual hasil oplosan dengan harga jual Bensin Pertamax, walau kualitas bensin jauh lebih rendah daripada RON 92 murni.
Pada dasarnya RON sendiri adalah singkatan dari Research Octane Number. Dilansir dari Auto2000, bilangan oktan merupakan angka yang menunjukan nilai kualitas suatu bahan bakar. Semakin tinggi nilai oktan suatu BBM maka akan semakin lambat dan semakin sempurna proses pembakaranya sehingga tidak meninggalkan sisa residu pada mesin.
Pertalite merupakan bahan bakar dengan nilai oktan 90. Bensin ini mempunyai warna hijau terang yang terbentuk dari tambahan zat aditif EcoSAVE pada proses pengolahanya. EcoSAVE merupakan zat yang membantu mesin untuk berjalan lebih halus. Perlu diingat bahwa tidak semua mesin kendaraan cocok dengan BBM beroktan rendah. Pertamax merupakan bahan bakar dengan nilai oktan 92 dan sudah mengandung zat EcoSAVE. Terlebihnya, Pertamax sudah memenuhi standar internasional, dapat melindungi komponen mesin dari karat, dan mampu terbakar tanpa meninggalkan residu.
“BBM RON rendah bisa menyebabkan knocking. Knocking harus dihindari, karena dalam kasus ekstrim bisa merusak mesin, membuat piston berlubang, serta menurunkan efisiensi dan menaikkan emisi gas buang,” Jelas Iman Kartolaksono Reksowardojo, Ketua Ikatan Ahli Bahan Bakar Indonesia (IABI).
Pemilihan bahan bakar yang sesuai untuk spesifikasi mesin kendaraan sangat penting. Iman Kartolaksono Reksowardojo menjelaskan bahwa secara termodinamika, knocking (denotasi mesin menyebabkan suara bising) dapat terjadi karena BBM dengan RON rendah kurang tahan dengan tekanan dan temperatur tinggi. Akibatnya, bensin dapat terbakar sebelum dipicu oleh busi (spark plug), yaitu suatu komponen penting dalam mesin pembakaran internal. Alhasil, kondisi mesin bisa dirugikan dalam jangka panjang. Penggunaan BBM dengan RON rendah yang tidak cocok dengan kebutuhan mesin dapat menyebabkan adanya pengendapan pada mesin dan memicu pembentukan kerak karbon, dan berpotensi menyebabkan karat.
Selain kerugian negara yang mencapai lebih dari Rp. 190 Triliun, masyarakat ikut dirugikan dari berbagai aspek. Konsumen terlanjur membeli bensin dengan harga yang lebih mahal tetapi mendapatkan bensin berkualitas rendah. Banyak netizen-pun memperlihatkan dampak kasus pengoplosan ini pada kendaraan mereka di berbagai platform sosial media seperti TikTok dan Instagram. Tapi berapakah jumlah kerugian yang dialami setiap individu korban pengoplosan ini?
Saat ini, harga Pertalite adalah Rp. 10.000 per liter, sedangkan harga Pertamax adalah Rp. 12.900 per liter. Rata-rata motor membutuhkan bensin 20 liter per bulan. Dengan demikian, pengguna pertalite harus mengeluarkan Rp. 20.000 dan pengguna pertamax harus mengeluarkan dana sebesar Rp. 258.000 perbulannya.
Untuk mobil, konsumsi bensin berkisar antara 100-200 liter bensin per bulan, tergantung jenis dari mobilnya. Pengguna pertalite akan menghabiskan Rp. 1.000.000 sampai 2.000.000 sedangkan pengguna pertamax bisa menghabiskan Rp. 1.290.000 – 2.580.000.
Karena kasus pengoplosan BBM ini yang sudah berlangsung sejak tahun 2018, pengguna motor dikirakan bisa rugi Rp. 58.000 perbulannya, dan dalam setahun bisa rugi Rp. 696.000. Sementara itu, pengguna mobil bisa merugi antara Rp. 290.000 – 580.000. dan dalam setahun bisa rugi kurang lebih sebesar Rp. 3.480.000 – 6.960.000.
Kerak karbon dan karat pada komponen internal kendaraan dapat disebabkan oleh nilai oktan yang terlalu rendah untuk mesin dan dapat berakibat fatal seperti kebocoran atau kerusakan permanen pada mesin. Dilansir dari Kompas.com, kerak karbon dapat dibersihkan dengan proses gurah mesin, dimana mesin diberi cairan kimia khusus untuk merontokkan karbon. Auto2000 menyediakan servis ini dengan kisaran biaya Rp. 450.000 – Rp. 800.000 tergantung jenis dan kebutuhan kendaraanya.
Menurut GridOTO, biaya servis untuk membenarkan mesin yang knocking mulai dari Rp. 350.000 tergantung pada kompleksitas perbaikan dan jenis kendaraanya.
Penulis: Alifia Keona
Editor: Galih R. Wiratama








