Media Parahyangan – Akhir-akhir ini, tagar #KamiBersamaSukatani sedang ramai di media sosial setelah salah satu lagu dari band punk asal Purbalingga yang berjudul bayar bayar bayar, ditarik dari media digital. Apakah cara mengkritik mereka yang frontal salah?
Henrycus Napitsunargo, dosen Integrated Arts di Unpar, menjelaskan bahwa kritik dalam seni umumnya disampaikan dengan metafora untuk membangun kesadaran masyarakat
Kritik dalam seni biasanya menggunakan cara yang lebih ‘halus’ dalam menyampaikan opini para seniman lewat metafora dalam medium yang mereka pilih. “Ketika Iwan Fals menulis Bento, kita tahu siapa yang ia kritik meskipun tokohnya fiktif,” ujarnya dalam wawancara pada 1 Maret 2025.
Seniman menggunakan metafora sebagai cara mereka ber-opini bukan karena mereka ‘takut’ atau ‘kurang berani’ dalam mengkritik, tapi karena tugas seniman adalah memberi pemahaman atau makna baru, bukan mencoba untuk mengubah sistem yang ada seperti seorang demonstran.
Namun, Sukatani memilih pendekatan yang lebih frontal dan ‘kasar’ dalam menyuarakan opini mereka lewat satire yang tidak dibalut oleh metafora layaknya seorang aktivis atau demonstran, menyebut sang “Bento” dengan nama aslinya. Hal tersebut mungkin menjadi alasan mengapa Sukatani diperlakukan ‘spesial’ oleh institusi yang disinggung.
Tapi hal ini tidak secara langsung membuat Sukatani menjadi pihak yang salah karena terlalu kasar dalam menyuarakan kritik mereka.
“Satu hal, kenapa seniman sampai bersuara se-frontal itu juga tidak lepas dari faktor lingkungan. Orang-orang kita (mayoritas masyarakat Indonesia, termasuk oknum institusi) jarang aware dengan hal-hal yang halus dan masih menjunjung tinggi maskulinitas dalam bersuara,. Nah, itu juga mungkin menjadi alasan seniman menyuarakan opininya dengan frontal untuk membangun kesadaran masyarakat. Harus seperti demonstran yang dapat menggerakkan massa.” ujar Henrycus.
Sayangnya, masih banyak orang yang mengasosiasikan kata “kritik” dengan sesuatu yang memiliki konotasi negatif, menganggap bahwa hal tersebut merupakan hinaan yang bersifat personal. Padahal kata ‘kritik’ berasal dari kata ‘kritis’, yaitu berpikir dengan alasan dan berdasar,” tutup Henrycus.
Penulis: Gregorius Ramones Evanraffael
Editor: Galih R. Wiratama








